Showing posts with label Kisah- Kisah Keluarga Nabi. Show all posts
Showing posts with label Kisah- Kisah Keluarga Nabi. Show all posts

Thursday, April 2, 2015

Ummul Banin Ibunda Abl Fadhl Abbas

Ummul Banin memasuki rumah Imam Ali as dengan kesadaran penuh bahwa sebelum dirinya, Pemimpin wanita seluruh alam, Sayyidah Fatimah az-Zahra sa tinggal di rumah tersebut. Karenanya, begitu ia melangkahkan kaki memasuki rumah, beliau bersumpah akan melayani putra-putri az-Zahra sa, selayaknya budak pada tuannya.

Para perawi meriwayatkan, saat pertama kali dibawa ke rumah Imam Ali as, al-Hasan dan al-Husain sedang sakit. Ummul Banin bersegera merawat mereka dengan penuh ketelatenan dan kecintaan. Ketulusan beliau yang luar biasa ini begitu dihargai oleh putra-putri az-Zahra sa hingga mereka selalu memberi penghormatan khusus kepada hadhrat Ummul Banin.

Empat putra beliau , Abbas, Abdullah, Ja’far dan Usman, kesemuanya syahid bersama Imam Husain as di Karbala.

Sedari kecil Ummul Banin senantiasa mewanti-wanti al-Abbas mengenai kedudukannya dengan Imam Husain as. Beliau selalu berkata,

“Perhatikanlah sikapmu terhadap al-Husain, ingatlah, ia bukan saudaramu melainkan Imam dan Tuanmu, maka selalu tundukkan kepalamu di hadapannya, dan ikutilah ia sampai ajal menjemputmu.”

Saat mendengar kabar bahwa Syimr membuka paksa hijab Sayyidah Zainab as dalam tragedi Karbala, Ummul Banin dilanda kesedihan yang luar biasa atas apa yang menimpa putri az-Zahra yang dicintainya lebih dari nyawanya sendiri itu, dengan diliputi rasa tak percaya ia berkata,

”Dimana Abbas? Bagaimana ia membiarkan hal ini terjadi? Sungguh ia bukan putraku.”

Selang beberapa saat kemudian setelah seseorang memberitahunya bahwa peristiwa itu terjadi setelah kesyahidan al-Abbas barulah Ummul Banin percaya.

Kemuliaan, ketulusan dan kecintaan beliau kepada Ahlul Bayt as, menjadikan setiap Imam suci pada zamannya memuji dan mengagungkan ibunda al-Abbas ini.

Wednesday, November 12, 2014

Ksatria Misterius

Saat perang Shiffin berlangsung antara kubu Imam Ali as dan Muawiyah, para musuh  berusaha menguasai air. Mereka memblokade daerah air dan melarang pasukan Imam Ali as. Darinya.

Tiba-tiba seorang ksatria muda berperawakan gagah, menggunakan kain penutup wajah memasuki medan laga dengan menunggang kuda. Baik musuh maupun pihak muslimin tidak mengetahui siapa kesatria misterius tersebut. Dengan lihainya sang ksatria misterius  memporak-porandakan pasukan musuh yang memblokade air.

Melihat itu, Muawiyah memerintahkan komandan terbaiknya bernama Abu Sya’sya untuk melawan sang ksatria. Namun panglima Muawiyah yang berasal dari Syiria tersebut berkata dengan sombong,

“ Orang-orang menyetarakan keberanianku dengan keberanian 1000 penunggang kuda, dan kau ingin aku bertarung melawan bocah ini?” ujarnya pongah.

Abu Sya’sa menolak maju lebih dulu dan memerintahkan putranya yang paling muda untuk bertarung. Tak berapa lama, putra itu kalah dan terbunuh di tangan ksatria gagah perkasa tersebut.

 Abu Sya’sa kemudian memerintahkan putranya yang lain, satu persatu putra Abu Sya’sa berjatuhan tak mampu menandingi kelihaian sang ksatria.

Melihat semua anaknya mati,  Abu Sya’sa menjadi sangat marah. Ia kemudian maju memasuki medan laga.  Diucapkannya syair-syair kesombongan menuntut pem balasan dendam atas kematian anak-anaknya.

Di luar dugaan pihak musuh, Pendekar andalan Muawiyah itu berhasil dikalahkan dengan mudah.

Muslimin di pihak Imam Ali bin Abi Thalib bergembira atas kemenangan yang berhasil diraih. Saat itulah, Imam Ali bin Abi Thalib memanggilnya, beliau sendiri yang membuka kain penutup wajah remaja tersebut, dan tahulah  semua orang  bahwa ksatria muda itu tidak lain adalah  Abl Fadhl Abbas.