Showing posts with label Kisah-Kisah Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kisah-Kisah Hikmah. Show all posts

Wednesday, April 8, 2015

1+1+1= 4 ?????

Di suatu kelas di Taman Kanak-Kanak,seorang murid ditanya oleh gurunya,

"Kazim, kalau Ibu  beri Kazim sebuah apel, lalu Ibu  tambah sebuah lagi, kemudian Ibu tambahkan sebuah lagi,berapa buah apel yang Kazim punya?" tanya sang guru.

Dengan antusias kazim mulai menghitung menggunakan jari jarinya, khas anak kecil.
Setelah merasa menemukan jawaban yang tepat,dengan mata berbinar Kazim menjawab lantang,

"Empat Bu guru..!"

Ibu Guru mengernyitkan dahi. Tak puas dengan jawaban Kazim, iapun mengulang kembali pertanyaannya,

 "Kazim, dengarkan pertanyaan Bu guru baik baik ya? Kalau Ibu  beri Kazim sebuah apel, lalu Ibu  tambah sebuah lagi kemudian Ibu tambahkan sebuah lagi, berapa apel yang Kazim punya?"

Melihat gurunya  kecewa atas jawaban pertama yang ia berikan tadi, Kazim berusaha dengan lebih keras menjumlahkan. Jari-jarinya ditekuk kemudian dihitung sambil mulutnya komat-kamit menghitung. Kemudian sekali lagi ia menjawab,

 "Empat bu guru," kali ini bocah 5 tahun itu menjawab dengan suara agak pelan.

Gurunya lagi lagi nampak kecewa, menjadikan Kazim mengkerut tak percaya diri. Tapi sebagai seorang pendidik yang baik, sang guru mengerti bahwa tak baik menampakkan kekecewaan pada murid sekecil Kazim. Lalu sang guru mulai berpikir, mungkin karena Kazim kurang suka apel maka ia menjawab dengan salah. Karena Kazim sangat suka strawberry, mungkin ia lebih mengerti kalau soalnya diganti dengan strawberry.

 Lalu gurupun bertanya kembali tapi kali ini dengan soal berbeda,

"Baiklah Kazim, kalau sekarang Ibu  beri Kazim sebuah strawberry, lalu sebuah lagi dan ditambah sebuah lagi..berapa strawberry milik Kazim sekarang?"

Dengan polos kazim mulai lagi mengitung dengan jari2 mungilnya, dirasa sudah menemukan jawabannya Kazim menjawab,

"Tiga bu guru!" Kali ini, takut-takut Kazim memandang wajah sang guru.

 Raut sumringah tampak diwajah gurunya. Merasa berhasil, sang gurupun memuji Kazim yang semula terlihat agak tertekan.

"Bagus Kazim! Bagus sekali, nak! Jawaban kamu benar sekali!" ucapnya gembira,
“Nah, sekarang kalau pertanyaannya diganti seperti tadi, Ibu  beri Kazim apel satu, lalu ditambah satu apel lagi dan satu lagi, apelnya Kazim ada berapa?"

Kazim dengan mata berbinar bagaikan seorang pemenang dengan mantap menjawab,

"Empat bu guru..!"

Oh!  Jawaban yang membuat raut gembira sang guru seketika berubah, dan membuat mata berbinar sikecil Kazim redup tersapu kekecewaan sang guru.

"Aduh Kazim! Kenapa berbeda jawabannya? Kan soalnya sama saja? Hanya bu guru ganti buah strawberrynya dengan apel??"

Melihat sang guru sangat kecewa, dengan menundukkan kepala Kazim berucap pelan,

"Tapi Bu guru,Kazim sudah punya sebuah apel di tas."

Wednesday, December 25, 2013

YATIM KECIL KARBALA

Diluar rumah tempat kami menginap, kulihat seorang anak laki-laki duduk di lantai yang dingin, ia berjualan berbagai macam cindera mata khas untuk para peziarah yang lewat.

          

           Yang paling menyentuhku adalah, begitu rendah hati caranya duduk dan berjualan. Tak pernah sekalipun ia mendongakkan kepala dan menawar-nawarkan dagangan seperti biasanya penjual-penjual dagangan di pinggir jalan. Anak laki-laki kecil ini hanya tersenyum kepada setiap peziarah yang lewat, sambil merapikan cindera mata yang ia jual, ikat kepala, bros-bros kecil, dan bendera. Tak seperti senyum lain, senyumnya adalah senyum kegembiraan, senyum yang menunjukkan keimanan.

         

             Kepolosan dan ke rendah hatiannya itu, menyentuh hatiku. Kesederhanaan dan ketulusannya menarikku untuk duduk dan berbincang sebentar dengannya.

            Aku berjongkok di sampingnya dan berkata.

            “Assalamualaikum saudara kecilku.”

            Anak kecil itu mendongak, melihat ke arahku sambil tersenyum, seolah memang sedari tadi, ia tengah menunggu seseorang menyapa dan mengajaknya berbicara.

            “Wa alaikum salam wahai Peziarah Al-Husain, selamat datang, selamat datang!”

            Aku bertanya,

            “Siapa namamu?”

            “Ahmad.” jawabnya.

            “Berapa tahun, umurmu?” tanyaku lagi.

            “Aku 11 tahun, kak. Semoga Allah memberkahi Kakak umur panjang sehingga bisa terus datang ke Karbala.” jawabnya lagi.

            Ucapan terakhirnya yang berupa doa ini, membuat leherku seolah tercekat. Sambil menahan air mata haru, aku bertanya kembali padanya.

            “Kenapa kau duduk sendirian di lantai yang dingin ini?”

            “Kakak tahu? Ayah dan Ibuku syahid dalam sebuah peristiwa ledakan bom sewaktu mereka hendak pulang ke rumah selepas Sholat Jum’at. Dan sekarang, tinggal aku yang bisa menafkahi 4 saudara perempuanku dan seorang saudara laki-lakiku yang cacat karena senjata kimia.”

            Jawaban Ahmad terasa bagai belati yang menusuk jantungku. Tak bisa lagi kutahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata. Kepalaku tertunduk, rasanya aku malu pada diriku sendiri.

            Dengan tangan kecilnya yang dingin, Ahmad mengusap air mata di pipiku.

            “Jangan menangis kak, ini adalah kehormatan untukku. Jangan berpikir kami sendirian, kami sekarang adalah yatim-yatim Aba Abdillah Al-Hussain(as), dan aku adalah Sang Abbas di rumah. Adakah yang lebih mulia dari ini?”

            Kupeluk bocah ini erat-erat. Rasanya tak ingin kulepas.

            Saat aku bangkit, Ahmad mengulurkan sehelai kain hijau yang diambilnya dari barang dagangannya. Dengan tersenyum Ia berkata,

            “Kakak, ambillah ini sebagai hadiah dariku. Letakkan di atas sajadah tempat kakak sholat, dan berjanjilah untuk mengingatku.JANGAN LUPA, NAMAKU AHMAD DARI KARBALA’.”

            Dan senyum itu terus membekas di hatiku.

         Aku melangkah pergi, kusadari, ini adalah  pelajaran besar dari Allah, untukku.

(via Journey of Karbala)