Showing posts with label Kisah- Kisah Para Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Kisah- Kisah Para Sahabat. Show all posts

Thursday, February 26, 2015

Wanita Mulia Berlisan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an

Abdullah bin Mubarak meriwayatkan,  Saat itu, aku tengah berada dalam sebuah perjalanan dan melewati gurun pasir. Dari jauh aku melihat seorang wanita berjalan sendirian, dan kusadari bahwa wanita itu tertinggal dari karavannya.

Akupun kemudian mendekatinya dan bertanya,

“Siapakah anda? Dan darimana anda berasal?”

Wanita itu kemudian menjawab dengan sebuah ayat al-Qur’an,

 “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. (Qur’an, 6:54)”


Kala itu aku berpikir bahwa wanita tersebut ingin aku mengucapkan salam terlebih dahulu kepadanya, kemudian baru ia akan menjelaskan siapa dirinya. Akupun melakukan seperti apa yang ia inginkan. Kemudian aku  menanyakan penyebab keberadaannya di tengah-tengah gurun pasir ini. Wanita itu menjawab,
  

“Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya! (Qur’an, 39:37)” menunjukkan bahwa wanita ini sebenarnya tidaklah tersesat.

Mendengar jawaban itu, aku kembali bertanya,

“Anda dari golongan manusia ataukah bangsa jin?”

Lagi-lagi ia menjawab dengan ayat al-Qur’an,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, (Qur’an, 7:31)”

Dari jawaban itu, aku memahami bahwa ia adalah seorang manusia, kembali kulanjutkan pertanyaanku,

“Darimanakah anda berasal?”

“Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh. (Qur’an, 41:44)”

“Dan kemana tujuan anda?”

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,(Qur’an,3:97)” jawabnya, menyiratkan bahwa tujuannya adalah ke Makkah untuk berhaji.

Wanita itu menjawab semua pertanyaan dengan ayat al-Qur’an. Aku kemudian menanyakan kepadanya mengenai  berapa lamakah ia telah  melakukan perjalanan.

Dan ia menjawab,

“Dan sesungguhnya, telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, (Qur’an, 50:38),” menyiratkan telah enam hari lamanya ia melakukan perjalanan.


Melihat keadaannya, aku kemudian menanyakan,

“Apakah anda lapar?”

“Dan tidaklah Kami jadikan mereka (para rasul-Nya), (memiliki) tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, (Qur’an, 21:8),” jawabannya mengiyakan pertanyaan itu.


Aku kemudian memberi wanita itu makanan. Wanita itu dengan tenang menyelesaikan makannya. Saat itu, aku memintanya untuk sedikit cepat supaya kami bisa mengejar karavannya. Padang pasir yang begitu luas tak urung sedikitnmenimbulkan kecemasan bila harus tertinggal jauh. Namun wanita itu menjawab,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qur’an, 2;286) ”


Setelah makan, aku  memintanya untuk duduk diatas unta, dibelakangku agar mudah segera menyusul karavan, namun lagi-lagi dengan ayat al-Qur’an wanita tersebut berkata,

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.  (Qur’an, 21:22)

Aku seperti disadarkan bahwa kami bukan suami istri jadi hal itu terlarang bagi kami berdua untuk duduk diatas unta bersamaan. Lalu akupun turun dan menolongnya menaiki untaku. Saat ia telah duduk diatas unta, iapun berkata,

“Maha Suci Dia yang telah menundukkan (binatang) ini bagi kami (untuk dimanfaatkan) (Qur’an, 43:13)”


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, kamipun berhasil menyusul karavan, aku bertanya kepadanya,

“Apakah anda mengenal salah seorang dari mereka?”

Wanita itu menjawab,

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) dimuka bumi, (Qur’an, 38:26),”

 “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, (Qur’an, 3:144),”

“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh! (Qur’an:19:12),”

“Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, (Qur’an, 27:9)”

Aku kemudian memanggil empat nama yang disebut wanita itu. Sesaat kemudian 4 orang pemuda keluar dari karavan. Melihat kami, mereka segera  berlari menuju wanita yang bersamaku. Aku menanyakan siapakah mereka ini  kepada wanita tersebut dan ia menjawab,


“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, (Qur’an, 18:46)”


Aku menyadari bahwa mereka adalah anak-anaknya. Wanita itu kemudian menengok ke arah anak-anaknya dan berkata,

“Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Qur’an, 28:26)”

Wanita itu seperti menjelaskan kepada mereka bahwa aku telah menolongnya. Ia kemudian berkata lagi kepada anak-anaknya,

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Qur’an 2:245)”

 Para pemuda putra wanita tersebut mengerti petunjuk yang diberikan ibunya dan memberiku imbalan sebagai tanda balas jasa. Penuh ingin tahu, Aku bertanya kepada mereka siapakah wanita mulia ini, dan mereka menjawab,

“Ia adalah ibu kami, FIDDHAH, pelayan Sayyidah Fathima azZahra sa. Dan ia tidak berucap sepatah katapun melainkan ayat suci al-Qur’an semenjak 20 tahun terakhir.”


*Disarikan dari tulisan Abul Qasim al-Qashiri melalui riwayat Abdullah bin Mubarak.*


Fiddhah ra. adalah seorang budak kulit hitam dari Ethiopia. Saat umur sebelas tahun ia didatangkan ke Arabia. Nabi suci Muhammad saw lalu membeli dan lantas membebaskan Fiddhah  hingga ia menjadi wanita muda yang merdeka. Namun Fiddhah tak ingin jauh dari keluarga Nabi saww. Fiddhah lalu menjadi pembantu rumah tangga di rumah Sayyidah Fatimah Zahra sa.


Sayyidah Fatimah selalu membagi pekerjaan rumah antara diri beliau dan Fiddhah. keimanan Fiddhah semakin bertambah selama tinggal bersama keluarga kenabian. Ia juga menjadi sangat mengerti al-Qur’an dengan sepenuh hati. Fiddhah pun turut serta mendapat kehormatan ikut berpuasa bersama Ahlul Bayt as, dalam puasa nadzar Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah sa atas kesembuhan dua putra suci mereka dari sakitnya. Ia ikut berpuasa dan turut serta pula memberikan jatahnya berbuka untuk orang miskin, anak yatim, dan tawanan selama 3 hari berturut-turut, dimana peristiwa itu diabadikan oleh Allah SwT dalam Kitab suci al-Qur’an, surat ad-Dahr (surat al-Insan) ayat 76.


Fiddhah bahkan sangat setia hingga ia pun turut mengikuti rombongan Imam Husain as ke Karbala, dan setia bersama Sayyidah Zainab sa melewati semua penderitaan bersama AhlulBayt Nabi dalam perjalanan karavan tawanan suci dari Karbala ke Syam.





Tuesday, April 1, 2014

Adzan Sang Kulit Hitam Abisinia

Kini  ia makin dekat dengan kota itu. Udara di siang yang panas menyengat membuatnya berkali-kali menyeka peluh di dahi dan menjadikan tangannya pelindung pandangan dari silaunya matahari.

Dilemparkan pandangannya ke arah hijaunya pohon kurma yang terletak di belakang deretan rumah-rumah sederhana Madinah, kembali ditariknya napas dalam-dalam saat menatap kota Nabi Muhammad tersebut. Setiap hirupan napas, rasanya kembali ia rasakan udara segar yang mengingatkannya akan aroma keharuman junjungannya, Nabi Muhammad saww.

Walaupun Nabi Muhammad saww telah wafat beberapa bulan yang lalu, namun keharuman beliau saw  jelas tercium  dari  masjid beliau, masjid dimana ia pernah dititahkan melantunkan azan selama bertahun-tahun.

Ia masuki kota itu dalam diam, sejenak ia kibaskan debu-debu yang menempel di bajunya, pandangannya berkeliling memperhatikan hiruk pikuknya suasana. Orang-orang Madinah sibuk dengan kehidupan mereka sehari-hari hingga seolah tak menyadari kehadirannya.

Dilangkahkannya kaki menuju perempatan kota dimana beberapa rumah bani Hasyim berdiri, kemudian ia menuju sebuah gang sempit tempat dulu ia biasa menyambut Nabi saww setiap beliau hendak menuju masjid, diperhatikannya sebuah rumah yang darinya terpancar aroma kenabian, dulu Nabi selalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepada penghuninya setiap sebelum ke masjid. Itu adalah rumah Fatimah sa dan Ali bin Abi Thalib as, putri dan menantu Nabi Muhammad saww.

Walau sebelumnya ia pernah memutuskan untuk tidak akan kembali ke Madinah setelah wafatnya Nabi, namun kerinduannya bertemu keluarga Nabi saww membuatnya kini berada kembali di kota itu dan berdiri di depan pintu itu. Perlahan dihampiri dan diketuknya pelan pintu sederhana dihadapannya.

“Salam sejahtera bagi kalian wahai Ahlulbayt as, wahai keluarga Nabi yang diberkati,” ucapnya.

Suaranya sangat dikenali oleh para pemilik rumah. Seketika pintu terbuka dan muncullah dua cucu kesayangan Nabi, Imam Hasan dan Imam Husain as menghambur ke arahnya. Wajah mereka begitu ceria dan antusias,


“Ini Bilal! Ini Bilal! Ia telah kembali!”

Bilal, seorang Abisinia berkulit hitam, yang dahulunya mendapat kehormatan dari Nabi saww sebagai pelantun azan di masjid Nabawi, memeluk erat kedua putra kecil Ali tersebut. dengan sayang dibelainya dua cucu kesayangan Nabi itu, pandangan mata mereka seolah mengingatkannya pada masa lalu dimana ia selalu bisa mencium aroma keharuman Nabi melalui keduanya.

Beberapa saat berlalu, Bilal seperti diingatkan tentang Nyoya pemilik rumah, putri Nabi Muhammad saww yang telah dirampas hak warisnya. Dua putra kecil Ali as menggandeng tangan Bilal dan menggandengnya masuk halaman rumah kecil mereka.

Suasana tetap sama seperti dulu di rumah Ali bin Abi Thalib. Namun kini, didalam rumah, disebuah kamar yang kecil, putri Nabi yang berduka, Fatimah sa terbaring lemah. Beliau mendengar suara yang tak asing, dikenalinya betul suara muazzin ayahnya saat pertama tadi ia menyapa beliau dengan hormat sebelum memasuki halaman.

“Salam atasmu wahai Muazzin ayahku, Nabi Allah SWT,” ucapnya.

Suara itu terdengar sangat lemah. Bilal merasa khawatir, ia kemudian bertanya apakah Fatimah yang mulia sedang sakit, namun pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.

Setelah hening sesaat, suara Sayyidah Fatimah dari dalam ruangan meminta Bilal untuk pergi ke masjid Nabi dan mengumandangkan azan sebagaimana ia biasa melantunkannya dimasa Nabi saww masih hidup.

“Wahai Bilal, sebelum aku pergi meninggalkan dunia yang fana ini, aku ingin kau melantunkan azan supaya aku bisa mengenang kembali masa-masa indah bersama Rasulullah Muhammad saww,” pinta Sayyidah Fatimah sa.

Bilal merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Ia tahu sebelum meninggalkan Madinah, bahwa warisan Nabi telah dirampas dari putri junjungannya tersebut. Dirampas oleh penguasa baru yang juga telah merampas hak Imam Ali bin Abi Thalib dari kursi kepemimpinan ummat, tapi sungguh Bilal tak menyangka masalah ini sampai-sampai membuat Sayyidah Fatimah berada dalam kondisi demikian.

Bilal mematuhi perintah Junjungannya. Segera ia menuju Masjid Nabawi, dinaikinya atap Masjid dan dipandangnya seluruh kota Madinah yang kini terlihat berbeda dari sewaktu Nabi saww masih hidup.

Bilal memulai azan, suaranya lembutnya seolah menyentuh langit ketika ia melantunkan kalimat pertama. Saat ia kumandangkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar), orang-orang serempak menghentikan kegiatan mereka dan saling pandang.

“Apakah Bilal telah kembali,” terdengar suara-suara bergumam.

“Asyhadu anla ilaha illa Allah (Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah),” lanjut Bilal.

Mendengar kalimat berikutnya ini, orang-orang serempak berbondong-bondong menuju masjid. Bilal melanjutkan kembali azannya,

“ Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah)”

Air mata mengalir di pipi pendududk Madinah. Namun sewaktu Bilal hendak melanjutkan kembali adzannya, ia melihat dua cucu Nabi, al-Hasan dan al-Husain as berlari ke arahnya. Imam Hasan dan Imam Husain serempak berkata,

“Wahai Bilal, jangan teruskan bacaan adzanmu, Ibu kami begitu teringat akan Nabi  dan kini beliau jatuh pingsan.”

Bilal bergegas turun dan memeluk kedua cucu kesayangan Nabi itu dengan berlinang air mata.


Tuesday, August 27, 2013

Tak Ingin Membuat Nabi Malu





Matahari cukup terik siang itu. Seorang laki-laki miskin yang tengah dalam perjalanan melihat ada sebuah benda berkilauan di dekatnya. Ia kemudian memungut benda berkilauan tersebut. Ternyata sebuah cincin.

Sejenak ia terkejut. Diperhatikan lagi cincin yang ditemukannya . Dari bentuknya, ia mengenali bahwa cincin tersebut adalah milik seorang Yahudi yang juga tinggal di kota yang sama.

 Laki-laki miskin ini merenung, ia adalah orang miskin, saat ini ia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan di tangannya kini, ia menggenggam sebuah cincin yang bisa laku dengan harga mahal jika ia mau menjualnya.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki ini beranjak dari tempatnya menemukan cincin. Dengan mantap ia melangkahkan kakinya, namun bukan menuju ke pasar, melainkan ke rumah sI Yahudi pemilik cincin.

Sesampai di rumah orang Yahudi tersebut, laki-laki itu menyerahkan cincin yang ditemukannya. Si Yahudi  terkejut ada yang megembalikan cincin berharganya. Namun kemudian ia  tersenyum dan berkata,

            
“ Tahukah kamu, kalau cincin ini sangat berharga? “

           
“ Ya.” jawab laki-laki miskin.

            
Si Yahudi memperhatikan lagi laki-laki  di hadapannya. Dilihatnya penampilan laki-laki ini, dari atas ke bawah.



“ Kamu menemukan sebuah cincin, sedangkan kau adalah orang miskin dan membutuhkan. “    ucap si Yahudi lagi.

“ Iya, kamu benar.” Jawab laki-laki miskin itu.

“ Lalu, apakah tidak terpikir olehmu untuk menjualnya saja, kemudian memenuhi semua kebutuhanmu, dengan alasan bahwa cincin ini milik seorang Yahudi?  “ lagi-lagi Yahudi bertanya.

“ Kenapa aku harus berfikir begitu? “  laki-laki miskin ini membalas pertanyaan si Yahudi dengan kembali bertanya.

“ Lalu, kenapa kamu mengembalikan cincin ini, sementara aku tidak tahu kalau kau yang menemukannya? “ si Yahudi masih saja terus bertanya karena penasaran.

Laki-laki  ini adalah seorang muslim  yang sangat mencintai Rasulullah S.A.W.W. dengan tulus. Dengan polos ia menjelaskan kepada si Yahudi pemilik cincin tersebut,

“ Kami percaya dengan hari Pengadilan.” ucapnya, “ Aku berkata pada diriku, kalau cincin ini tidak kukembalikan pada pemiliknya, maka kelak, saat amal-amalku diperhitungkan di Hari Kiamat, dan Nabiku (Rasulullah SAWW) duduk bersebelahan dengan Nabimu ( Nabi Musa AS) maka Nabimu akan mengeluh pada Nabiku tentang perbuatan salah satu ummatnya, yaitu aku, yang telah mengambil milik orang lain, dan nanti disana, Nabiku akan menanggung malu karena perbuatanku. Oleh karena itulah, aku mengembalikan cincin itu, agar aku bisa menyelamatkan kehormatan Nabiku.”


 Pesan cerita: berfikirlah sebagaimana seorang Muslim berfikir, bertindaklah sebagaimana seorang Muslim bertindak, Cintailah Allah dan Rasulnya sebagaimana Muslim Sejati mencintai Allah Swt dan Rasulnya Saww.




Friday, July 19, 2013

Ksatria Pemberani Itu Memeluk Islam




Kala itu, Rasulullah tengah duduk merenungkan nasib ummat Islam yang  berada dalam kondisi terzalimi oleh kaum kafir Qurays. Pandangan beliau menyapu situasi kota Makkah melalui sebuah sudut di halaman rumah seorang sahabat, al-Arqam al Makhzumi.

Saat itulah, Abu Jahal dan beberapa temannya lewat. Ia  turun dari kudanya dan tertawa berputar-putar mengelilingi  Rasulullah sambil berkata,

“Lihatlah penyihir ini, lihatlah orang gila ini, dia tidak bisa tertawa seperti kita,dia hanya diam..! ha..ha..ha..”

 Perbuatan Abu Jahal itu memang disengaja untuk menghina dan memancing kemarahan Rasulullah. Namun kekasih Allah itu bergeming. Beliau tak menghiraukan ejekan Abu Jahal.

Menjadi gemas karena merasa diacuhkan oleh  Rasulullah, Abu Jahal dengan mata nanar  menunduk, mengambil segenggam pasir dan menaburkannya diatas kepala suci Nabi, dan lagi lagi perbuatannya itu diiringi dengan tawa keras. Tawa  keras Abu Jahal disambut tawa sahabat-sahabatnya.

Rasulullah dengan kesabaran beliau yang luar biasa bangkit,  menebas-nebaskan pasir dari kepala dan bajunya  kemudian pergi dari tempat itu.

Penghinaan Abu Jahal kepada Rasulullah ini rupanya disaksikan oleh seorang gadis kecil putri  dari seorang budak milik keluarga Abdullah bin Ju’dan. Rumah tuannya yang bersebelahan dengan rumah al-Arqam, membuatnya leluasa melihat apa yang terjadi.

 Gadis kecil ini hatinya sedih melihat apa yang terjadi pada Nabi Muhammad saww, rasanya ia begitu marah namun bingung harus berbuat apa.

Selang beberapa saat kemudian, dilihatnya Hamzah bin Abdul Muthalib lewat di hadapannya. Terlintas dalam pikiran bocah kecil ini untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi pada Paman Rasulullah itu. Bukankah Hamzah adalah ksatria yang sangat terkenal dengan keberaniannya?  Bukankah paman sekaligus saudara sepersusuan Rasulullah ini sangat menyayangi beliau?

Gadis kecil itu melihat tampaknya Hamzah  baru datang dari berburu, ia masih membawa busur dan panahnya. Seketika pikiran gadis kecil ini dipenuhi berita yang sering ia dengar, kalau pemuda Arab akan bangga jika bisa mendapatkan buruan satu  ekor singa, maka bagi Hamzah, mendapat dua atau tiga ekor singa adalah hal biasa. Ia bahkan bisa menang bila bergulat tanpa senjata dengan seekor singa. Oleh karena itu, di kalangan bangsa Arab,  tidak ada yang berani melawan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Segera saja gadis kecil itu menemui Hamzah,

“ Wahai  Abu Amara!“ katanya memanggil Hamzah dengan nama julukannya. “ Abu Jahal telah menyakiti putra saudaramu!” lanjutnya dengan napas memburu.

Seketika ekspresi wajah Hamzah menjadi begitu serius. Beliau amat menyayangi Muhammad dan tak rela bila sesuatu yang buruk terjadi padanya, ditunundukkannya kepala dan ditatapnya  gadis kecil dihadapannya dengan tajam,

“Katakan padaku apa yang terjadi!” desak Hamzah segera ingin tahu

Gadis kecil itu menjelaskan peristiwa penghinaan Abu Jahal dan teman-temannya pada Rasulullah. Wajah Hamzah seketika memerah. Ia tak terima atas perlakuan Abu Jahal kepada Muhammad. Dengan langkah tergesa  ia mencari Abu Jahal.

Abu Jahal dan sahabat-sahabatnya tengah berkumpul di sekitar Ka’bah, Hamzah Sang Singa padang pasir  segera masuk ke dalam kerumunan itu dan menerkam Abu Jahal. Ia  memukul kepala Abu Jahal dengan busur yang dibawanya. Abu Jahal ketakutan setengah mati. Ia jatuh terlentang. Wajahnya pucat pasi melihat keganasan Hamzah yang terlihat begitu marah.

 Beberapa orang sahabat Abu Jahal yang berusaha melepaskan cengkeraman Hamzah, terpental dengan sekali kibasan tangannya. Orang-orang menjadi ramai. Suara mereka riuh rendah menyaksikan apa yang terjadi.

Abu Jahal yang masih dalam cengkeraman Hamzah berusaha menenenangkan saudaranya.

“ Te-te-tenang dulu, “ katanya terbata-bata

“ Apa yang kau lakukan pada Muhammad??!!” menggelegar suara Hamzah di telinga seluruh yang mendengarnya kala itu.

“A-a-aku melakukannya ka-ka-rena ia telah menghina tuhan-tuhan kita,” ucap Abu Jahal membela diri.

Hamzah yang masih terlihat begitu marah menimpali ucapan Abu Jahal tersebut,

“ Bukan hanya Muhammad! Akupun benci dengan tuhan-tuhan batu kalian! Sekarang apa yang mau kau lakukan kepadaku?!!!”  gelegar suara Hamzah lagi-lagi terdengar, ia menantang keberanian Abu Jahal.

Tapi tak ada yang berani menjawab tantangan Hamzah. Nyali mereka yang ada disana telah menciut. Mereka hanya bisa terperangah mendengar ucapan Hamzah yang menghina berhala sembahan mereka.

Dan mereka semakin terkejut lagi karena sesaat kemudian Hamzah berdiri dan  berucap dengan lantang. “

                     AKU BERSAKSI TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH!

 DAN AKU BERSAKSI MUHAMMAD ADALAH UTUSAN ALLAH !”

Abu Jahal seketika menjadi lemas, begitu juga pembesar-pembesar Qurays yang hadir disana. Suara gumaman,bisik-bisik bahkan celotehan pelan bak dengungan lebah riuh rendah di seantero Mekkah. Semua membicarakan keislaman Hamzah. Sang Pemberani yang tak terkalahkan itu kini telah masuk Islam. Hal ini menjadi kekalahan tersendiri bagi kaum Qurays dan berita gembira bagi ummat Islam.

Hamzah meninggalkan Abu Jahal dan kerumunan orang-orang.  Beliau menemui Muhammad kekasih Allah dengan berlinang air mata. Ia disambut Rasulullah dengan gembira,mereka berpelukan. Disertai senyum bahagia muslimin yang menyaksikannya.

Masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthalib menjadikan tekanan kepada ummat Islam sedikit berkurang. Kaum kafir takut berurusan dengan Hamzah. Rasulullah saww  kemudian memberinya gelar Asadullah yang artinya Singa ALLAH.

 Hamzah Asadullah membuktikan kesetiaan dan kecintaannya pada Islam. Ia dan Ali bin Abi Thalib as menjadi pahlawan  yang menumpas musuh terbanyak di Badar, ia terus membela Islam hingga mencapai kesyahidannya dalam perang Uhud, ketika seorang budak bayaran bernama Wahsyi menombaknya secara sembunyi-sembunyi dari belakang.