Tuesday, May 21, 2013
Monday, May 20, 2013
Raja dan Sang Pemberani Kecil
Raja Dan Sang Pemberani
Kecil
“Hei awas!” teriak seorang anak menyeruak keramaian dan
berlari menepi ke pinggir jalan.
“Biarkan aku lewat! “ anak yang lain panik melompati kawannya
yang terjatuh-jatuh kebingungan.
Seorang lagi menepi ketakutan di teras sebuah rumah.
Anak-anak kecil yang sedang bermain di jalanan kota Baghdad
itu sontak bubar dan berlarian mendengar derap kaki kuda rombongan Khalifah
Makmun ar-Rasyid.
Makmun ar-Rasyid adalah salah satu Khalifah dari Bani Abbas.
Seperti biasa, jika rombongan pembesar kerajaan lewat maka jalanan harus
diperuntukkan bagi mereka saja. Pengguna jalan yang lain harus mundur dan
menepi menunggu hingga seluruh rombongan lewat.
Kali ini terdapat sesuatu yang janggal,semua orang sudah
menepi, namun seorang anak tetap berada pada tempatnya dan tidak bergeming.
Khalifah Makmun berhenti. Ia perhatikan anak kecil yang
berada di hadapannya,rupawan dan tegap.
“Anak muda, mengapa kau tak lari dan menepi seperti
anak-anak yang lain?” tanyanya.
“ Bukankah saya tidak melakukan kejahatan apapun? Saya juga
tidak menghalangi jalan anda. Lagipula saya percaya kalau anda tidak perlu
melakukan sesuatu yang akan mencelakai saya karena saya tidak menghalangi jalan
anda.” Anak kecil itu menjawab dengan tenang.
Hal ini mengejutkan Makmun. Siapakah anak kecil ini,bagaimana ia sama sekali tidak takut padanya
dan rombongan prajuritnya?pikirnya.
“Siapa namamu?”tanyanya
penasaran.
“Muhammad.” Jawab anak kecil tersebut.
“ Putra siapakah engkau?”
“ Aku putra Imam Ali ar-Ridho.” kembali ia menjawab mantap.
Makmun terkesima mendengar jawaban mantap dari Muhammad kecil itu. Ia menatap Muhammad beberapa saat, kemudian
meneruskan perjalanan untuk berburu tanpa berkata apa-apa lagi.
Makmun mempunyai
seekor elang yang handal dalam menangkap mangsa. Sewaktu berburu, Makmun
melepaskan elangnya. Elang itu terbang dan menghilang. Sesaat kemudian burung
itu kembali dengan membawa ikan kecil yang masih hidup di paruhnya. Burung itu
menyerahkan hasil tangkapannya pada Makmun.
Saat melihat ikan kecil menggelepar di tangannya,terbersit
dalam pikiran Makmun untuk menggunakan
ikan tersebut guna menguji kehebatan anak pemberani yang tadi ditemuinya.
Segera rombongan bersiap melakukan perjalanan kembali ke
kota. Sesampai di kota Baghdad, kejadian yang hampir sama terulang. Semua orang
termasuk anak-anak kecil yang sedang bermain berhamburan,kecuali seorang anak
yang tadi mengatakan namanya adalah Muhammad putra Imam Ali ar-Ridha.
Rombongan berkuda yang berderap-derap seketika turut
berhenti saat Makmun menghentikan tunggangannya di dekat tempat Muhammad
kecil berdiri.
Makmun menyembunyikan ikan kecil dalam genggaman telapak
tangannya. Ia mendekati Muahmmad
dan menatap tajam wajah tampan
putra Imam Ali ar-Ridho a.s. itu.
” Katakan, apa yang ada dalam genggamanku?” katanya.
Yang ditatap balas
menatap tanpa takut atau gemetar sedikitpun, meski ia tahu, yang berdiri
dihadapannya adalah Raja yang ditakuti seluruh penduduk.
“Allah telah menciptakan ikan kecil di sungai, Elang milik
Raja suatu hari datang dan menangkapnya lalu membawa ikan itu pada sang Raja.
Raja menyembunyikan ikan tersebut dalam
genggamannya, kemudian ia bertanya kepada salah satu anggota Ahlul Bayt Nabi,katakan,apa yang ada dalam genggamanku. “
Makmun sungguh terpana mendengar jawaban yang sempurna itu,“
Sungguh layak jika kau adalah putra Imam Ali ar-Ridho!”ucapnya. ia menjadi yakin bahwa yang berdiri dihadapannya adalah
penerus keimamaham Imam Ali ar-Ridho as.
Semenjak saat itu, Makmun mulai berusaha untuk selalu
mendekati Muhammad kecil yang
adalah Imam Muhammad al- Jawad as. Di
hadapan umum ia berpura-pura bersikap baik pada Imam Muhammad al-Jawwad as. agar
rakyat yang mencintai Imam mendukungnya dan tidak memberontak kepadanya. Semua
ia lakukan demi kepentingan langgengnya kekuasaan Bani Abbasiyah.
Labels:
KISAH IMAM JAWAD
Wednesday, April 17, 2013
Salam dari Kakek yang Mulia
Seorang pria
tua melangkahkan kakinya di
tengah-tengah keramaian kota Madinah. Hatinya
tengah dirundung kerinduan yang amat sangat. Puluhan tahun telah ia
lewati semenjak pertemuan kala itu. Setiap matahari terbit,harapannya untuk
bertemu yang dinantinya bersemi,namun seiring tenggelamnya matahari, lagi-lagi ia harus bersabar menunggu
kesempatan di lain hari.
Hari itu,ia
langkahkan kakinya keluar rumah, di tengah kerinduan yang sangat, di jalanan
kota Madinah, ia memanggil-manggil nama
yang dirindunya dengan suara keras,
“ Wahai
Baqiral Ulum, Wahai Pembedah Ilmu Pengetahuan!”
“ Wahai
Baqiral Ulum, Wahai Pembedah Ilmu Pengetahuan!” Orang tua itu mengulang-ulang
panggilannya.
Orang-orang
yang ada di sekitarnya membicarakan orang tua itu. Sebagian berkata,
“
Jabir sudah tidak waras,karena tua.”
Hati Jabir bin
Abdillah al Anshari, sahabat setia Rasulullah ini semakin terasa berat
mendengar ucapan orang-orang
munafik . Ia teringat, kejadian berpuluh tahun yang lalu. Di kala itu ia
menemui Rasulullah yang sedang bersama al-Husain as di pangkuannya. Saat Rasulullah
melihat Jabir, Beliau bersabda,
“ Wahai Jabir,
seorang putra akan terlahir dari keturunan putraku ini( al-Husain), ia akan
menjadi seseorang yang paling berpengetahuan dan paling bijaksana di masanya.
Wahai Jabir, Allah akan memanjangkan umurmu sampai pada masa itu. Wahai Jabir!
Bila kau bertemu dengannya, sampaikanlah salamku untuknya.”
Semenjak itulah
Jabir selalu menanti pertemuan dengan cucu Nabi yang mulia tersebut, ia
senantiasa duduk di jalanan kota Madinah, kemudian dengan seksama ia akan
memperhatikan setiap orang yang berjalan ke arahnya.
Hari itu,
Jabir seperti biasa menanti di jalanan kota Madinah. Walaupun ia kini telah tua
dan buta, ia masih bisa mengandalkan pendengarannya. Saat itulah, ia mendengar
langkah kaki yang persis seperti suara langkah kaki Rasulullah. Jabir ingat
betul suara langkah kaki Rasulullah karena langkah kaki Rasulullah memiliki
kekhasan tersendiri.
Seketika Jabir
berdiri dan berusaha menghentikan orang yang suara langkah kakinya sama persis
dengan suara langkah kaki Rasulullah tersebut.
“ Siapakah
engkau?” tanya Jabir bin Abdillah.
“ Aku
Muhammad.” jawab pemilik langkah kaki tersebut yang ternyata adalah seorang
anak kecil.
“ Putra
siapakah engkau?” tanya Jabir lagi
“ Putra Ali
bin Husain!”
Mendengar Jawaban
ini, Jabir segera mengenali siapa yang ada dihadapannya. Ia adalah putra Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Husain yang akan menjadi Imam penerus
ayahandanya. Ialah Baqiral Ulum, pembedah Ilmu Pengetahuan. Ialah cucu Nabi,
yang kepadanya Rasulullah saww telah menitipkan salam.
Jabir tak
kuasa menahan air matanya, ia menciumi tangan Imam, bahkan ingin mencium kaki Imam
namun Imam segera menarik kaki beliau. Imam membantu Sahabat Nabi yang telah
tua itu berdiri. Dengan berlinang air mata, Jabir berkata,
“ Wahai Putra
Rasulullah, semoga jiwaku menjadi tebusan bagimu. Kakekmu Rasulullah saww telah
menitipkan salam kepadamu melalui diriku.” ucap Jabir kepada Imam Muhammad
kecil.
Ia kemudian
menceritakan kejadian di saat Rasulullah menitipkan salam kepadanya.
Imam Muhammad
al-Baqir kemudian membawa Jabir ke rumahnya, dihadapan Imam Ali Zainal Abidin
dan di hadapan banyak orang, Jabir bin Abdillah al-Anshari ini menceritakan kembali pertemuannya dengan
Rasulullah dan bagaimana Beliau saww. telah menitipkan salam kepada cucunya
yang akan menjadi Imam yang ke lima yaitu Imam Muhammad al-Baqir as.
Hati Sahabat
Nabi, Jabir bin Abdillah al-Anshari mungkin telah menjadi begitu lega, setelah pada akhirnya ia bertemu dengan sosok yang
selalu dirindukannya, sang Pembedah Ilmu Pengetahuan, Imam Muhammad al-Baqir
a.s.
Ia telah menyampaikan amanat Rasulullah. Jabir
bin Abdillah al-Anshari meninggal tak lama setelah pertemuannya dengan Imam
Baqir as. Seperti sabda Rasulullah kepadanya,
ketahuilah wahai Jabir, waktumu tidaklah panjang setelah pertemuan dengannya.
Wednesday, March 27, 2013
Kelahiran Yang Dinanti
Langit dan seluruh alam seolah menahan nafasnya sore itu,
anginpun bertiup perlahan menggoyang
Sore itu 14 Sya’ban 255 H, Imam Hasan Al-Askari mengundang
bibinya Sayyidah Hakima untuk berbuka puasa di rumah beliau. Sayyidah Hakima,
putri Imam Muhammad Al-Jawad adalah wanita suci dan mulia yang sangat dihormati
di masanya.
Sayyidah Hakima memenuhi undangan dari Imam Hasan Al-Askari.
Sesampai di rumah Imam, Beliau menyambutnya dan berkata,
“Bibi,tinggallah bersama kami untuk berbuka bersama malam
ini, segera Allah SWT akan menggembirakan anda dengan kehadiran
Wali-Nya,Hujjah-Nya atas ummat manusia dan Pemimpin mereka setelahku”
Sayyidah Hakima menjadi begitu bahagia mendengar kabar
gembira yang disampaikan Imam.
“Wahai junjunganku dan pemimpinku, semoga jiwaku jadi
tebusan bagimu. Dari siapakah ia akan lahir?” tanya Sayyidah Hakima
“ Dari istriku Nargis.” Jawab Imam.
Bergegas Sayyidah Hakima menemui Nargis dengan berseri-seri, Namun beliau terkejut saat melihat Sayyidah Nargis
tidak kelihatan seperti wanita yang sedang mengandung.
Sayyidah Hakima menjadi resah dan berkata dalam hati, Nargis tidak kelihatan sedang mengandung. Dengan tersenyum Imam berkata kepada
bibinya,
“Wahai bibi, janganlah bersedih, sesungguhnya Nargis adalah
seperti Ibunda Musa as. sedangkan putraku ini adalah seperti Musa a.s. yang
akan terlahir secara rahasia dan tanpa
pertanda. Pergilah kepadanya, ia akan melahirkan nanti di waktu Fajar.”
Di masa itu, Imam Hasan Al-Askari selalu berada di bawah
pengawasan ketat pemerintahan kerajaan
Bani Abbas. Hal ini dikarenakan Khalifah telah mendengar akan terlahir seorang
putra dari beliau, seorang putra yang
akan menjadi sang juru selamat dan akan menumbangkan semua kezaliman. Kerajaan
Bani Abbas ketakutan kekuasaannya akan runtuh di tangan Imam Mahdi sebagaimana
ketakutannya Raja Fir’aun akan kerajaannya yang
akan runtuh di tangan Nabi Musa as.
Mereka berusaha
membunuh Imam Hasan Al-Askari dengan berbagai cara namun selalu gagal. Mereka
juga memenjarakan Imam dari satu tempat ke tempat lain,hingga menjadikan Imam
sebagai tahanan rumah. Seperti Fir,aun juga, mereka menyiapkan pasukan tentara
dan mata-mata untuk selalu mengawasi kediaman
Imam Hasan Al-Askari as., agar jika terdengar telah lahir seorang bayi laki-laki
dapat segera mereka bunuh. Mereka lupa, sebagaimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dengan menjadikan kehamilan ibunda Nabi Musa as tersembunyi, maka Allahpun
dapat pula menyelamatkan Imam Mahdi dengan menjadikan kehamilan Sayyidah
Nargis tak terlihat.
Sore itu Sayyidah Hakima tinggal bersama Sayyidah Nargis
hingga tiba waktu Maghrib, beliau kemudian melaksanakan sholat dan selanjutnya duduk
bersama untuk berbuka puasa. Sayyidah Hakima senantiasa
memperhatikan keadaan Nargis hingga beliau tertidur, sebentar kemudian beliau terbangun di tengah malam. Lagi-lagi Sayyidah
Hakima memperhatikan Sayyidah Nargis yang masih tidur, tak tampak tanda-tanda sebagaimana
perempuan yang akan melahirkan.
Sayyidah Hakima lalu beranjak untuk melaksanakan sholat
malam. Dengan khusuk beliau menghadap Allah SWT. Di akhir sholat,saat beliau
melaksanakan witr, Sayyidah Nargis terbangun dan kemudian melaksanakan sholat
di sampingnya.
Seusai sholat, Sayyidah Hakima melihat istri Imam Hasan
Al-Askari itu kesakitan seperti akan melahirkan, bergegas beliau menghampirinya,
“ Apakah kau merasakan sesuatu? “ tanya Sayyidah Hakima
“Oh Bibi, aku merasakan sakit...” ucap Sayyidah Nargis agak merintih
Sayyidah Hakima berniat menolong Sayyidah Nargis dalam persalinannya.
Dengan penuh kesabaran dan kelembutan beliau berkata,
“ Tenanglah, bila Allah menghendaki, tak ada yang perlu engkau khawatirkan.”
Tiba-tiba seberkas cahaya sangat terang memancar diantara beliau danSayyidah Nargis hingga Sayyidah Hakima tak bisa lagi melihat Sayyidah Nargis . Dengan cemas Sayyidah Hakimah menemui Imam Hasan Al-Askari as dan melaporkan apa yang terjadi. Namun dengan tersenyum Imam meminta beliau kembali dengan berkata,
“ Kembalilah Bibi,tak lama lagi engkau akan melihatnya.”
Sayyidah Hakima kembali menemui Sayyidah Nargis dan saat beliau sampai,tampaklah seorang bayi telah lahir. Bayi tersebut dalam keadaan bersujud, mengangkat jarinya menunjuk langit, melafazkan kalimat syahadat dan memuji Keagungan Allah SWT . Bayi mulia itu juga melafazkan ayat ke-5 dari surat al-Qasas yang berbunyi,
“Dan Kami hendak
memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan
menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),”
Di tangan kanan bayi tersebut juga tertulis ayat ke 81 dari surat Bani Israil
yang berbunyi,
" Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
" Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.
Imam Hasan Al-Askari menyambut gembira kelahiran Imam Mahdi
as, beliau mengungkapkan sanggahannya terhadap usaha-usaha
pemerintahan Bani Abbas yang terus menerus berusaha membunuh beliau untuk
mencegah lahirnya Imam Mahdi. Beliau berkata,
“Orang-orang kejam ini berpikir dapat membunuhku agar terputus keturunanku, betapa mereka telah
meremehkan Kekuasaan Allah.”
(lulu)
Labels:
kisah Imam Mahdi
Subscribe to:
Posts (Atom)



