Saturday, December 14, 2013

USHULUDDIN



USHULUDDIIN

Prinsip-Prinsip Dasar Agama ada 5

             
           1.Tauhid(Keesaan Allah)
Tauhid berarti bahwa Tuhan itu Esa. Ia tak memiliki sekutu dan tak memerlukan teman. Dia tidak beranak dan diperaakkan. Dan tak ada sesuatupun yang seperti Dia.

2.Adl(Keadilan Tuhan)
Adl berarti Allah itu adil dan tidak menganiaya hamba-hambanya. Ia akan memberi pahala ataupun menghukum diantara mereka, sesuai apa yang mereka lakukan

3. Nubuwwat(Kenabian)
Allah mengutus para Nabi ke atas ummat manusia sebagai pemberi petunjuk. Dan diantara ciri-ciri mereka yang agung adalah, mereka itu Ma’sum. Ma’sum berarti terjaga dari melakukan perbuatan dosa dan melakukan kesalahan. Seorang Nabi lebih utama dari semua ummatnya, karena ia diutus oleh Allah untuk menyempurnakan manusia dan mengajarkan kepada mereka aturan-aturan kehidupan. Nabi Pertama adalah Nabi Adam as. dan Nabi Terakhir adalah Nabi Muhammad bin Abdullah SAWW. Total jumlah Nabi yang diutus  Allah adalah 124.000 Nabi.

4.Imamah (Kepemimpinan/Keimamahan)
Setelah  Rasulullah SAWW, Allah SWT menunjuk dan mengangkat 12 Imam alaihimis salam. Satu setelah yang lain, untuk memimpin dan memberi petunjuk kepada ummat sampai nanti tiba hari Kiamat. Seperti layaknya para Nabi, para Imam juga suci dan terjaga dari melakukan dosa ataupun kesalahan. Para Imam jumlahnya ada 12. Dan mereka lah yang penerus-penerus Rasulullah SAWW yang sah. Yang pertama dari mereka adalah Imam ALI BIN ABI THALIB dan yang terakhir adalah Imam Zaman, IMAM MAHDI AFTS. Yang masih hidup sampai sekarang dan akan muncul untuk memenuhi bumi dengan keadilan.

5. Ma’ad (Hari Kebangkitan)
Ma’ad berarti bahwa pada saat hari pengadilan tiba, semua orang yang telah mati akan dihidupkan kembali. Mereka yang melakukan keaikan di dunia akan diganjar pahala dan memperoleh surga. Dan mereka yang berbuat buruk di dunia, akan dihukum sesuai perbuatan-perbuatan buruk mereka.


Diterjemahkan dari buku METHOD OF SHALAT
Complid by: Sayyid Muhammad Qadi Mar’ashi    Ansariyan Publication-Qum



Saturday, November 9, 2013

MIMPI YANG MENGERIKAN



Suatu hari, saat Sayyidah Zainab (SA) berusia sekitar lima tahun, beliau bermimpi aneh dan mengerikan. Terjadi topan badai  dan gelap menyelimuti bumi dan langit. Zainab kecil terlempar ke sana kemari,  tiba-tiba ia menemukan dirinya berada diantara cabang-cabang sebuah  pohon besar. Tapi angin begitu kuat sehingga menumbangkan pohon. Zainab (SA) berusaha meraih dahan dari pohon tersebut, namun dahan itupun patah. Dalam kepanikan  Zainab (SA) meraih dua ranting dari dahan yang patah, tetapi kedua ranting itupun  patah dan ia pun terjatuh tanpa penolong.

Lalu Zainab (SA)  terbangun. Ketika Zainab kecil menceritakan kepada kakeknya, Nabi [saw], tentang mimpi ini, Beliau (SAWW) menangis tersedu-sedu dan berkata,

 "Wahai putriku, aku adalah pohon itu, yang tak lama akan meninggalkan dunia ini. Dahan-dahannya adalah ayahmu Ali dan ibumu Fatima Zahra, dan kedua ranting itu adalah saudaramu Hasan dan Husain. Mereka semua akan meninggalkan dunia ini sebelum engkau, dan kau akan menderita dengan perpisahan dan kehilangan ini. "

Tuesday, August 27, 2013

Baik Hati Pada Semua



Pada saat perang Jamal, Qunbur, salah seorang budak Imam Ali, melihat Imam tampak lelah dan gerah, maka ia membawakan minuman sejenis sirup yang manis untuk nya.
         
   “ Tuanku, “ kata Qunbur, “ Matahari bersinar sangat terik dan anda telah berperang terus- menerus dari tadi, munumlah air dingin ini untuk menyegarkan diri.”

            Saat itu, pasukan Imam Ali telah menang, dan musuh telah kalah. Imam yang baru selesai berperang, melihat kepada Qunbur, dan kemudian menyapukan pandangannya ke arah musuh-musuh yang berjatuhan di sekitarnya. Beliaupun berkata,

            “ Haruskah aku menyegarkan diri, sementara di sekitarku ada ratusan orang yang terbaring dengan luka-luka dan sebagian ada yang sangat kehausan?” jawab Imam.                “ daripada membawa air segar untukku, sebaiknya kau ajak beberapa prajurit dan bawakan air untuk mereka.”

            Qunbur tampak sedikit heran dengan jawaban Imam,

            “ Tapi Tuanku, bukankah mereka semua adalah musuh yang memerangi kita? “

            Rasanya Qunbur masih tidak bisa melupakan, bagaimana musuh-musuh yang berjatuhan ini, sebelumnya begitu beringas ingin menghabisi Imam dan pasukannya.

            Imam mengetahui isi hati Qunbur, beliau menjawab,

“ Mereka mungkin memang musuh kita, tetapi bagaimanapun mereka tetaplah manusia, berilah mereka minum. “


Tak Ingin Membuat Nabi Malu





Matahari cukup terik siang itu. Seorang laki-laki miskin yang tengah dalam perjalanan melihat ada sebuah benda berkilauan di dekatnya. Ia kemudian memungut benda berkilauan tersebut. Ternyata sebuah cincin.

Sejenak ia terkejut. Diperhatikan lagi cincin yang ditemukannya . Dari bentuknya, ia mengenali bahwa cincin tersebut adalah milik seorang Yahudi yang juga tinggal di kota yang sama.

 Laki-laki miskin ini merenung, ia adalah orang miskin, saat ini ia membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sedangkan di tangannya kini, ia menggenggam sebuah cincin yang bisa laku dengan harga mahal jika ia mau menjualnya.

Tak berapa lama kemudian, laki-laki ini beranjak dari tempatnya menemukan cincin. Dengan mantap ia melangkahkan kakinya, namun bukan menuju ke pasar, melainkan ke rumah sI Yahudi pemilik cincin.

Sesampai di rumah orang Yahudi tersebut, laki-laki itu menyerahkan cincin yang ditemukannya. Si Yahudi  terkejut ada yang megembalikan cincin berharganya. Namun kemudian ia  tersenyum dan berkata,

            
“ Tahukah kamu, kalau cincin ini sangat berharga? “

           
“ Ya.” jawab laki-laki miskin.

            
Si Yahudi memperhatikan lagi laki-laki  di hadapannya. Dilihatnya penampilan laki-laki ini, dari atas ke bawah.



“ Kamu menemukan sebuah cincin, sedangkan kau adalah orang miskin dan membutuhkan. “    ucap si Yahudi lagi.

“ Iya, kamu benar.” Jawab laki-laki miskin itu.

“ Lalu, apakah tidak terpikir olehmu untuk menjualnya saja, kemudian memenuhi semua kebutuhanmu, dengan alasan bahwa cincin ini milik seorang Yahudi?  “ lagi-lagi Yahudi bertanya.

“ Kenapa aku harus berfikir begitu? “  laki-laki miskin ini membalas pertanyaan si Yahudi dengan kembali bertanya.

“ Lalu, kenapa kamu mengembalikan cincin ini, sementara aku tidak tahu kalau kau yang menemukannya? “ si Yahudi masih saja terus bertanya karena penasaran.

Laki-laki  ini adalah seorang muslim  yang sangat mencintai Rasulullah S.A.W.W. dengan tulus. Dengan polos ia menjelaskan kepada si Yahudi pemilik cincin tersebut,

“ Kami percaya dengan hari Pengadilan.” ucapnya, “ Aku berkata pada diriku, kalau cincin ini tidak kukembalikan pada pemiliknya, maka kelak, saat amal-amalku diperhitungkan di Hari Kiamat, dan Nabiku (Rasulullah SAWW) duduk bersebelahan dengan Nabimu ( Nabi Musa AS) maka Nabimu akan mengeluh pada Nabiku tentang perbuatan salah satu ummatnya, yaitu aku, yang telah mengambil milik orang lain, dan nanti disana, Nabiku akan menanggung malu karena perbuatanku. Oleh karena itulah, aku mengembalikan cincin itu, agar aku bisa menyelamatkan kehormatan Nabiku.”


 Pesan cerita: berfikirlah sebagaimana seorang Muslim berfikir, bertindaklah sebagaimana seorang Muslim bertindak, Cintailah Allah dan Rasulnya sebagaimana Muslim Sejati mencintai Allah Swt dan Rasulnya Saww.




Monday, July 29, 2013

AKU TELAH MENANG ! DEMI TUHAN KA'BAH !



AKU TELAH MENANG! DEMI TUHAN KA’BAH!

Malam 19 Ramadhan, Imam berbuka di rumah Sayyidah Ummu Kultsum, Di bulan Ramadhan kali ini, Imam sering berbuka puasa di rumah putra-putrinya secara bergantian, terkadang di rumah Imam Hasan as, terkadang di rumah Imam Husain as, di rumah Sayyidah Zainab atau di rumah Sayyidah Ummu Kaltsum.

Usai berbuka, Imam kemudian shalat dan berdo’a. Imam terus menerus melaksanakan sholat, bersujud dan bermunajat. Berkali-kali pula Imam memandang bintang-bintang yang berkerlap kerlip di langit dan berkata,

“ Sungguh, aku tidaklah berbohong, tidak pula memberi pernyataan yang keliru, malam ini adalah malam yang telah dijanjikan untukku.”

 Imam meneruskan ibadahnya, membaca surah Yasin, sesaat kemudian mengucap,

“ Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”  beberapa kali pula beliau mengucapkan,  “ La haula wa la quwwata illa billahi al ‘aliyyil ‘adhim. ”  “ Ya Allah, jadikanlah kematian sebagai keberuntungan bagiku.”

Sayyidah Ummu Kultsum yang melihat  ayahandanya  seperti gelisah , bertanya,

“ Oh Ayah, Ayah tampak gelisah hari ini.”

Imam Ali menjawab pertanyaan putrinya , Sayyidah Ummu Kultsum,

“ Akhirat ada di hadapanku, aku akan menemui Tuhanku.”

Mendengar jawaban ayahandanya, air mata menggenang di pelupuk mata Sayyidah Ummu Kultsum,
“ Ayah, janganlah pergi ke Masjid hari ini. ada Ju’dah bin Hubayrah, mintalah ia untuk mengimami shalat.” Ucap Sayyidah Ummu Kultsum berusaha mencegah kepergian Imam.

Imam melihat kesedihan Sayyidah Ummu Kultsum, beliau berkata,

“ Putriku, tak ada yang bisa menghindar dari takdir yang telah ditetapkan Allah.”

Malam sudah menjelang fajar, Muazzin,  ibn Tabaj memberi tahukan bahwa waktu shalat shubuh hampir tiba. Imam beranjak dari Rumah Sayyidah Ummu Kultsum menuju masjid kufah.

Sampai di pekarangan rumah, Angsa-angsa peliharaan yang ada disana tiba-tiba bersuara keras, hewan-hewan ini seperti berebut menghalangi Imam Ali  keluar dari halaman rumah, mereka seolah berusaha menghadang Imam sambil mengepak-ngepakkan sayapnya , atau bahkan seperti menarik-narik ujung jubah Imam dengan terus bersuara keras.

Salah seorang yang bersama Imam maju ingin menyingkirkan angsa-angsa tersebut, namun Imam melarangnya.

“ Biarlah, sebentar lagi, teriakan-teriakan ini akan disusul oleh tangisan.” ucap beliau.

Imam Hasan atau Sayyidah Ummu Kultsum yang berada di sana berkata,

“ Wahai Ayah, apa yang kau katakan?

“ Ini adalah kebenaran yang terucap dari mulutku.” jawab Imam

Kemudian beliau memandang Sayyidah Ummu Kultsum dan berkata,

“ Wahai Putriku, burung-burung ini tak bisa berbicara, peliharalah dan beri mereka makan, jika kau tak sanggup melakukannya, maka lepaskanlah mereka, sehingga mereka bebas berkeliaran di atas bumi untuk mencari makan.”

Sayyidah Ummu Kultsum memandang kepergian Imam dengan linangan air mata, Imam Hasan yang  hendak menemani beliau waktu itu, tak diizinka oleh Imam. Beliau kemudian bergegas menuju masjid, meneriakkan panggilan shalat, bahkan membangunkan beberapa orang yang tertidur untuk melaksanakan shalat, diantaranya Abdurrahman ibn Muljam.

Saat Imam tengah mengimami  shalat, Abdurrahman bin Muljam, yang telah merencanakan pembunuhan terhadap Imam jauh-jauh hari sebelumnya segera  mengambil kesempatan itu. Ia memukulkan pedangnya yang telah diolesi racun yang sangat kuat ke kepala Mulia Imam Ali as.

Seketika kepala itu retak dan berlumuran darah. membasahi wajah dan janggut mulia Imam.

“ Dengan nama Allah, dan di atas agama Rasulullah, AKU TELAH MENANG, DEMI 
TUHANNYA KA’BAH. Wahai sekalian manusia, putra si Yahudi ibn Muljam, telah membunuhku.”