Kedudukan: Imam Pertama
Nama: Imam Ali
Julukan: Amirul Mukminin (Pemimpin Kaum Mukminin)
Abul Hasan
Al-Murtadha
Ayah:Abu Thalib
Ibu: Fathimah binti Asad
Tahun Kelahiran: 600 Masehi
Tempat lahir: Didalam Ka’bah Rumah Allah di Mekkah
Wafat: 661 masehi
Umur: 61 tahun
Tempat wafat: di masjid Kufah (Iraq)
Penyebab kesyahidan: ditikam pedang di kepalanya oleh Abdurahman bin Muljam saat sedang sujud dalam sholat Subuhnya.
Friday, May 23, 2014
SEBUAH PENGORBANAN
Ajakan Nabi yang disambut berbagai kalangan membuat mereka khawatir lama-lama semua orang akan mengikuti Muhammad. Merekapun bersekutu merencanakan untuk membunuh Nabi.
Allah swt memberi tahu Nabi tentang rencana jahat kaum kafir Qurays, Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk memerintahkan kaum Muslim pindah ke Madinah, pindahnya kaum Muslimin dari Mekkah ke Madinah ini kemudian dikenal dengan nama Hijrah.
Kaum Muslimin berpindah secara bergantian ke Madinah.
Malam itu, tibalah saatnya Nabi Muhammad pergi ke Madinah, kaum kafir Qurays yang sebelumnya telah melakukan pertemuan khusus membahas rencana jahat membunuh Nabi, mengirimkan 40 orang dari suku yang berbeda untuk melaksanakan niat itu. Para pembunuh itu bersiaga di luar rumah dengan pedang terhunus siap melaksanakan rencana.
Saat itulah Nabi meminta Imam Ali as untuk menggantikan beliau berbaring di atas tempat tidur. agar kaum kafir mengira Nabi masih tidur di atasnya.
Tentu saja menggantikan Nabi bukan hal mudah. Karena kaum kafir yang berada di luar sedang dalam keadaan sangat marah dan siap membunuh. Mereka bisa saja beramai-ramai menghunjamkan pedang mereka ke tubuh Imam Ali yang berada di tempat tidur Nabi.
Bukannya takut, Imam yang kala itu masih sangat muda, justru tersenyum dan sangat bersemangat ingin melakukannya. Imam senang karena dengan pengorbanannya berarti nyawa Nabi saw bisa diselamatkan.
Saat itulah, dilangit, Allah menguji malaikat Jibril dan malaikat Mikail dengan berfirman bahwa diantara dua malaikat itu, ada yang usianya akan segera habis. Allah bertanya kepada kedua malaikat tersebut siapa yang setuju untuk dicabut nyawanya terlebih dahulu. Namun masing-masing malaikat menjawab bahwa mereka ingin memiliki umur yang lebih panjang supaya bisa menyembah Allah lebih lama.
Atas jawaban itu kemudian Allah memberitahu mereka, tentang yang terjadi di kediaman Rasulullah,
“ Di bumi malam ini, seorang saudara rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan saudaranya. Turunlah! Dan lindungi ia!”
Kedua malaikatpun turun dan menjaga Imam Ali sepanjang malam.
Ketika fajar tiba, para pembunuh menyerbu rumah Nabi dan menyerang beliau. Namun , betapa terkejut kaum kafir itu karena serangan mereka disambut perlawanan sengit orang yang mereka sangka Nabi Muhammad tersebut. tak lama berselang, tahulah mereka, ternyata orang itu adalah Imam Ali as. Kaum kafir kembali dengan kegagalan dan penuh kemarahan.
Allah swt yang sangat ridho atas pengorbanan Imam Ali as, kemudian brfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ,
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya (Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 207)
Tuesday, April 1, 2014
Adzan Sang Kulit Hitam Abisinia
Dilemparkan pandangannya ke arah hijaunya pohon kurma yang terletak di belakang deretan rumah-rumah sederhana Madinah, kembali ditariknya napas dalam-dalam saat menatap kota Nabi Muhammad tersebut. Setiap hirupan napas, rasanya kembali ia rasakan udara segar yang mengingatkannya akan aroma keharuman junjungannya, Nabi Muhammad saww.
Walaupun Nabi Muhammad saww telah wafat beberapa bulan yang lalu, namun keharuman beliau saw jelas tercium dari masjid beliau, masjid dimana ia pernah dititahkan melantunkan azan selama bertahun-tahun.
Ia masuki kota itu dalam diam, sejenak ia kibaskan debu-debu yang menempel di bajunya, pandangannya berkeliling memperhatikan hiruk pikuknya suasana. Orang-orang Madinah sibuk dengan kehidupan mereka sehari-hari hingga seolah tak menyadari kehadirannya.
Dilangkahkannya kaki menuju perempatan kota dimana beberapa rumah bani Hasyim berdiri, kemudian ia menuju sebuah gang sempit tempat dulu ia biasa menyambut Nabi saww setiap beliau hendak menuju masjid, diperhatikannya sebuah rumah yang darinya terpancar aroma kenabian, dulu Nabi selalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepada penghuninya setiap sebelum ke masjid. Itu adalah rumah Fatimah sa dan Ali bin Abi Thalib as, putri dan menantu Nabi Muhammad saww.
Walau sebelumnya ia pernah memutuskan untuk tidak akan kembali ke Madinah setelah wafatnya Nabi, namun kerinduannya bertemu keluarga Nabi saww membuatnya kini berada kembali di kota itu dan berdiri di depan pintu itu. Perlahan dihampiri dan diketuknya pelan pintu sederhana dihadapannya.
“Salam sejahtera bagi kalian wahai Ahlulbayt as, wahai keluarga Nabi yang diberkati,” ucapnya.
Suaranya sangat dikenali oleh para pemilik rumah. Seketika pintu terbuka dan muncullah dua cucu kesayangan Nabi, Imam Hasan dan Imam Husain as menghambur ke arahnya. Wajah mereka begitu ceria dan antusias,
“Ini Bilal! Ini Bilal! Ia telah kembali!”
Bilal, seorang Abisinia berkulit hitam, yang dahulunya mendapat kehormatan dari Nabi saww sebagai pelantun azan di masjid Nabawi, memeluk erat kedua putra kecil Ali tersebut. dengan sayang dibelainya dua cucu kesayangan Nabi itu, pandangan mata mereka seolah mengingatkannya pada masa lalu dimana ia selalu bisa mencium aroma keharuman Nabi melalui keduanya.
Beberapa saat berlalu, Bilal seperti diingatkan tentang Nyoya pemilik rumah, putri Nabi Muhammad saww yang telah dirampas hak warisnya. Dua putra kecil Ali as menggandeng tangan Bilal dan menggandengnya masuk halaman rumah kecil mereka.
Suasana tetap sama seperti dulu di rumah Ali bin Abi Thalib. Namun kini, didalam rumah, disebuah kamar yang kecil, putri Nabi yang berduka, Fatimah sa terbaring lemah. Beliau mendengar suara yang tak asing, dikenalinya betul suara muazzin ayahnya saat pertama tadi ia menyapa beliau dengan hormat sebelum memasuki halaman.
“Salam atasmu wahai Muazzin ayahku, Nabi Allah SWT,” ucapnya.
Suara itu terdengar sangat lemah. Bilal merasa khawatir, ia kemudian bertanya apakah Fatimah yang mulia sedang sakit, namun pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.
Setelah hening sesaat, suara Sayyidah Fatimah dari dalam ruangan meminta Bilal untuk pergi ke masjid Nabi dan mengumandangkan azan sebagaimana ia biasa melantunkannya dimasa Nabi saww masih hidup.
“Wahai Bilal, sebelum aku pergi meninggalkan dunia yang fana ini, aku ingin kau melantunkan azan supaya aku bisa mengenang kembali masa-masa indah bersama Rasulullah Muhammad saww,” pinta Sayyidah Fatimah sa.
Bilal merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Ia tahu sebelum meninggalkan Madinah, bahwa warisan Nabi telah dirampas dari putri junjungannya tersebut. Dirampas oleh penguasa baru yang juga telah merampas hak Imam Ali bin Abi Thalib dari kursi kepemimpinan ummat, tapi sungguh Bilal tak menyangka masalah ini sampai-sampai membuat Sayyidah Fatimah berada dalam kondisi demikian.
Bilal mematuhi perintah Junjungannya. Segera ia menuju Masjid Nabawi, dinaikinya atap Masjid dan dipandangnya seluruh kota Madinah yang kini terlihat berbeda dari sewaktu Nabi saww masih hidup.
Bilal memulai azan, suaranya lembutnya seolah menyentuh langit ketika ia melantunkan kalimat pertama. Saat ia kumandangkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar), orang-orang serempak menghentikan kegiatan mereka dan saling pandang.
“Apakah Bilal telah kembali,” terdengar suara-suara bergumam.
“Asyhadu anla ilaha illa Allah (Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah),” lanjut Bilal.
Mendengar kalimat berikutnya ini, orang-orang serempak berbondong-bondong menuju masjid. Bilal melanjutkan kembali azannya,
“ Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah)”
Air mata mengalir di pipi pendududk Madinah. Namun sewaktu Bilal hendak melanjutkan kembali adzannya, ia melihat dua cucu Nabi, al-Hasan dan al-Husain as berlari ke arahnya. Imam Hasan dan Imam Husain serempak berkata,
“Wahai Bilal, jangan teruskan bacaan adzanmu, Ibu kami begitu teringat akan Nabi dan kini beliau jatuh pingsan.”
Bilal bergegas turun dan memeluk kedua cucu kesayangan Nabi itu dengan berlinang air mata.
Wednesday, December 25, 2013
YATIM KECIL KARBALA
Diluar rumah tempat kami menginap, kulihat seorang anak laki-laki duduk di lantai yang dingin, ia berjualan berbagai macam cindera mata khas untuk para peziarah yang lewat.
Yang paling menyentuhku adalah, begitu rendah hati caranya duduk dan berjualan. Tak pernah sekalipun ia mendongakkan kepala dan menawar-nawarkan dagangan seperti biasanya penjual-penjual dagangan di pinggir jalan. Anak laki-laki kecil ini hanya tersenyum kepada setiap peziarah yang lewat, sambil merapikan cindera mata yang ia jual, ikat kepala, bros-bros kecil, dan bendera. Tak seperti senyum lain, senyumnya adalah senyum kegembiraan, senyum yang menunjukkan keimanan.
Kepolosan dan ke rendah hatiannya itu, menyentuh hatiku. Kesederhanaan dan ketulusannya menarikku untuk duduk dan berbincang sebentar dengannya.
Aku berjongkok di sampingnya dan berkata.
“Assalamualaikum saudara kecilku.”
Anak kecil itu mendongak, melihat ke arahku sambil tersenyum, seolah memang sedari tadi, ia tengah menunggu seseorang menyapa dan mengajaknya berbicara.
“Wa alaikum salam wahai Peziarah Al-Husain, selamat datang, selamat datang!”
Aku bertanya,
“Siapa namamu?”
“Ahmad.” jawabnya.
“Berapa tahun, umurmu?” tanyaku lagi.
“Aku 11 tahun, kak. Semoga Allah memberkahi Kakak umur panjang sehingga bisa terus datang ke Karbala.” jawabnya lagi.
Ucapan terakhirnya yang berupa doa ini, membuat leherku seolah tercekat. Sambil menahan air mata haru, aku bertanya kembali padanya.
“Kenapa kau duduk sendirian di lantai yang dingin ini?”
“Kakak tahu? Ayah dan Ibuku syahid dalam sebuah peristiwa ledakan bom sewaktu mereka hendak pulang ke rumah selepas Sholat Jum’at. Dan sekarang, tinggal aku yang bisa menafkahi 4 saudara perempuanku dan seorang saudara laki-lakiku yang cacat karena senjata kimia.”
Jawaban Ahmad terasa bagai belati yang menusuk jantungku. Tak bisa lagi kutahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata. Kepalaku tertunduk, rasanya aku malu pada diriku sendiri.
Dengan tangan kecilnya yang dingin, Ahmad mengusap air mata di pipiku.
“Jangan menangis kak, ini adalah kehormatan untukku. Jangan berpikir kami sendirian, kami sekarang adalah yatim-yatim Aba Abdillah Al-Hussain(as), dan aku adalah Sang Abbas di rumah. Adakah yang lebih mulia dari ini?”
Kupeluk bocah ini erat-erat. Rasanya tak ingin kulepas.
Saat aku bangkit, Ahmad mengulurkan sehelai kain hijau yang diambilnya dari barang dagangannya. Dengan tersenyum Ia berkata,
“Kakak, ambillah ini sebagai hadiah dariku. Letakkan di atas sajadah tempat kakak sholat, dan berjanjilah untuk mengingatku.JANGAN LUPA, NAMAKU AHMAD DARI KARBALA’.”
Dan senyum itu terus membekas di hatiku.
Aku melangkah pergi, kusadari, ini adalah pelajaran besar dari Allah, untukku.
(via Journey of Karbala)
Yang paling menyentuhku adalah, begitu rendah hati caranya duduk dan berjualan. Tak pernah sekalipun ia mendongakkan kepala dan menawar-nawarkan dagangan seperti biasanya penjual-penjual dagangan di pinggir jalan. Anak laki-laki kecil ini hanya tersenyum kepada setiap peziarah yang lewat, sambil merapikan cindera mata yang ia jual, ikat kepala, bros-bros kecil, dan bendera. Tak seperti senyum lain, senyumnya adalah senyum kegembiraan, senyum yang menunjukkan keimanan.
Kepolosan dan ke rendah hatiannya itu, menyentuh hatiku. Kesederhanaan dan ketulusannya menarikku untuk duduk dan berbincang sebentar dengannya.
Aku berjongkok di sampingnya dan berkata.
“Assalamualaikum saudara kecilku.”
Anak kecil itu mendongak, melihat ke arahku sambil tersenyum, seolah memang sedari tadi, ia tengah menunggu seseorang menyapa dan mengajaknya berbicara.
“Wa alaikum salam wahai Peziarah Al-Husain, selamat datang, selamat datang!”
Aku bertanya,
“Siapa namamu?”
“Ahmad.” jawabnya.
“Berapa tahun, umurmu?” tanyaku lagi.
“Aku 11 tahun, kak. Semoga Allah memberkahi Kakak umur panjang sehingga bisa terus datang ke Karbala.” jawabnya lagi.
Ucapan terakhirnya yang berupa doa ini, membuat leherku seolah tercekat. Sambil menahan air mata haru, aku bertanya kembali padanya.
“Kenapa kau duduk sendirian di lantai yang dingin ini?”
“Kakak tahu? Ayah dan Ibuku syahid dalam sebuah peristiwa ledakan bom sewaktu mereka hendak pulang ke rumah selepas Sholat Jum’at. Dan sekarang, tinggal aku yang bisa menafkahi 4 saudara perempuanku dan seorang saudara laki-lakiku yang cacat karena senjata kimia.”
Jawaban Ahmad terasa bagai belati yang menusuk jantungku. Tak bisa lagi kutahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata. Kepalaku tertunduk, rasanya aku malu pada diriku sendiri.
Dengan tangan kecilnya yang dingin, Ahmad mengusap air mata di pipiku.
“Jangan menangis kak, ini adalah kehormatan untukku. Jangan berpikir kami sendirian, kami sekarang adalah yatim-yatim Aba Abdillah Al-Hussain(as), dan aku adalah Sang Abbas di rumah. Adakah yang lebih mulia dari ini?”
Kupeluk bocah ini erat-erat. Rasanya tak ingin kulepas.
Saat aku bangkit, Ahmad mengulurkan sehelai kain hijau yang diambilnya dari barang dagangannya. Dengan tersenyum Ia berkata,
“Kakak, ambillah ini sebagai hadiah dariku. Letakkan di atas sajadah tempat kakak sholat, dan berjanjilah untuk mengingatku.JANGAN LUPA, NAMAKU AHMAD DARI KARBALA’.”
Dan senyum itu terus membekas di hatiku.
Aku melangkah pergi, kusadari, ini adalah pelajaran besar dari Allah, untukku.
(via Journey of Karbala)
Tuesday, December 17, 2013
SYARAT-SYARAT WUDHU’
SYARAT-SYARAT WUDHU’
Berikut syarat-syarat sahnya wudhu’
1.
Air yang digunakan untuk berwudhu’ harus bersih.
( wudhu dengan air yang najis tidak sah.)
2.
Air yang digunakan untuk berwudhu’ harus suci (
wudhu’ dengan air yang terkena najis tidaklah sah.)
3.
Air yang
digunakan haruslah halal. ( wudhu’ dengan menggunakan air curian atau tanpa
izin pemiliknya tidakla sah.)
4.
Tempat/ bejana
air, haruslah halal digunakan. ( wudhu’ dengan air yang diletakkan di
tempat/bejana curian atau tanpa izin dari pemiliknya, tidak sah.)
5.
Tempat/ bejana air, tidak boleh terbuat dari
emas atau perak.
6.
Bagian-bagian badan yang akan dibasuh ataupun diusap
haruslah bersih. (tidak ada najis di atasnya)
7.
Adanya waktu yang cukup untuk melaksanakan wudhu
dan sholat.
8.
Wudhu’ harus dilaksanakan dengan niat,
mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridhoNya.
9.
Wudhu harus dilaksanakan dengan cara berurutan
(Tartib)
10. Bagian-bagian
Wudhu’, harus dilaksanakan satu-persatu bergantian tanpa putus diantaranya
(Muwallat)
11. Orang
yang berwudhu’ harus melaksanakan wudhu’nya sendiri. Membasuh wajah dan tangan,
serta mengusap kepala dan kaki. Tanpa bantuan orang lain, kecuali kondisi
darurat.
12. Tidak
ada bahaya dalam menggunakan air.
13. Bagian-bagian
yang akan dikenai air dalam wudhu, tidak mengandung apa-apa yang menghalangi
sampainya air ke sana.
Labels:
FIQIH
WUDHU'
WUDHU’
Adalah wajib bagi seseorang untuk melaksanakan Wudhu untuk semua sholat wajib, dengan pengecualian untuk sholat jenazah.
Dalam wudhu’, kita membasuh wajah dan tangan, dan mengusap kepala dan kaki kita.
BAGAIMANA CARA BERWUDHU?
Pertama-tama, Kita meniatkan wudhu qurbatan ilallah. (mendekatkan diri pada Allah)
1.Kemudian, kiat mulai membasuh wajah. kita harus membasuh dari ujung dahi, yaitu tempat dimana rambut mulai tumbuh, sampai ke ujung dagu. Ukuran selebar apa wajah harus dibasuh, adalah selebar jarak antar ujung ibu jari hingga ujung jari tengah tangan kita. dan kita harus membasuh wajah, dari atas ke bawah.
2.setelah membasuh wajah, kemudian basuhlah tangan kanan kita, dari mulai diatas siku, hingga sampai ke ujung jari-jari kita. melakukannya juga sama, yaitu dari atas ke bawah.
3. setelah tangan kanan, kemudian basuhlah tangan kirimu, lagi dari atas siku sampai ujung jari-jari tangan, dan melakukannya dari atas ke bawah.
Adalah wajib bagi seseorang untuk melaksanakan Wudhu untuk semua sholat wajib, dengan pengecualian untuk sholat jenazah.
Dalam wudhu’, kita membasuh wajah dan tangan, dan mengusap kepala dan kaki kita.
BAGAIMANA CARA BERWUDHU?
Pertama-tama, Kita meniatkan wudhu qurbatan ilallah. (mendekatkan diri pada Allah)
1.Kemudian, kiat mulai membasuh wajah. kita harus membasuh dari ujung dahi, yaitu tempat dimana rambut mulai tumbuh, sampai ke ujung dagu. Ukuran selebar apa wajah harus dibasuh, adalah selebar jarak antar ujung ibu jari hingga ujung jari tengah tangan kita. dan kita harus membasuh wajah, dari atas ke bawah.
3. setelah tangan kanan, kemudian basuhlah tangan kirimu, lagi dari atas siku sampai ujung jari-jari tangan, dan melakukannya dari atas ke bawah.
4. setelah basuhan selesai, dengan sisa air yang ada di
tangan kanan, kita usap kepala kita ( dengan jarak sekitar satu jari dari mulai
tempat tumbuh rambut.)dari belakang, ke depan. kita tak boleh mengambil air
lagi, cukup sisa air yang masi menempel di tangan kanan.
5. kemudian, kita mengusappermukaan kaki kanan kita, dengan tangan
kanan. Dimulai dari ujung ibu jari kaki, sama, dengan sisa air di tangan kanan, tanpa
mengambil air lagi.
6.terakhir, kita mengusap permukaan kaki kiri dengan tangan kiri dimulai dari
ujung ibu jari, dengan air yang tersisa di tangan kiri.
Labels:
FIQIH
Sunday, December 15, 2013
BERKONSENTRASI DALAM SHOLAT


BERKONSENTRASI DALAM SHOLAT
Pada saat perang Shiffin, sebuah
anak panah mengenai kaki Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. sakit akibat
panah tersebut begitu besar. Darah tak henti-hentinya mengalir dari luka di kaki Imam. bagaimanapun para sahabat berusaha mencabut anak panah itu,
mereka tetap tidak mampu.
Para sahabat
kemudian mendatangi Imam Hasan al-Mujtaba as. dan menanyakan kepada beliau, apa
cara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencabut anak panah dari kaki Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib tersebut.
Imam Hasan
as menjawab mereka,
“Bersabarlah, tunggulah sampai
ayahku melaksanakan sholat, dan cabutlah anak panah itu, saat ayahku sedang sholat,
ayahku sangat khusyuk saat menghadap Tuhannya, memohon dan meminta semua
kebutuhannya, sehingga ia tak akan merasakan rasa sakit (karena anak panah)
itu.”
Para sahabat kemudian melakukan
sesuai petunjuk Imam Hasan as. mereka mencabut anak panah yang menancap di kaki
Imam Ali as, sewaktu beliau tengah shalat menghadap kepada Allah SWT. Setelah
Imam Ali as, selesai melaksanakan sholat, beliau menyadari darah mengucur dari
kakinya, beliau bertanya pada mereka yang hadir di ditu tenttang apa yang
terjadi, dan merekapun menjelaskan, bahwa mereka telah berhasil mengeluarkan anak
panah itu sewaktu tadi Beliau sedang sholat.
Labels:
FIQIH
Saturday, December 14, 2013
CABANG-CABANG AGAMA (FURU’UDDIIN)
CABANG-CABANG AGAMA (FURU’UDDIIN)
Cabang-cabang agama ada 10
1.Shalat
Ada beberapa macam shalat yang wajib dilaksanakan oleh seorang muslim.
Diantaranya adalah sholat 5 waktu. Sholat ini wajib bagi siapapun yang telah
beranjak baligh. Sesuai ajaran agama, seorang anak laki-laki menjadi balligh
saat usianya menginjak 15 tahun, dan seorang anak perempuan menjadi balligh
saat usianya menginjak 9 tahun.( atau lebih awal—untuk penjelasan lebih detail
bisa dilihat dari sumber yang lebih lengkap.)
2.Puasa
Puasa di bulan suci Ramadhan adalah wajib bagi setiap Muslim. Pelaksanaan
puasa pada bulan suci Ramadhan menjadi wajib dimulai dari hari dimana
terlihatnya/munculnya bulan baru sebagai pertanda masuknya bulan Ramadhan,
hingga/sampai hari terlihat/munculnya bulan baru/bulan tanggal satu berikutnya
3.Zakat
Zakat dibayarkan 2,5% dari keseluruhan jumlah harta berharga seseorang,
seperti contohnya emas, koin perak,tepung, gandum,kurma,unta, sapi dan domba
dengan syarat-syarat tertentu.
4.Khumus
Dibayarkan 20 % dari simpanan tahunan setelah digunakan untuk memenuhi
semua pengeluaran kebutuhan tahun itu. para Sadat, atau keturunan Rasulullah
saww mempunyai hak setengah dari Khumus tersebut, yang harus diberikan kepada
mereka yang kekurangan dan membutuhkan. Sebagian yang lain menjadi milik Imam
ke 12 dan harus diserahkan kepada perwakilannya (Marji’ Taqlid) atau mereka
yang diberi izin untuk mengumpulkan atas nama Marji’ Taqlid yang bersangkutan.
5.Haji
Pergi ke Mekkah untuk mengunjungi Baitullah (Ka’bah) disebut Haji.
Berhaji wajib bagi mereka yang mampu atau diantaranya, memiliki cukup harta
untuk membiayai perjalannya ke Mekkah pulang dan pergi, dan mempunyai harta
untuk menafkahi keluarganya sewaktu ditinggalkan pergi berhaji. Haji
dilaksanakan pada bulan terakhir penanggalan Islam, yaitu di bulah Dzulhijjah.
6.Jihad
Jihad berarti berjuang di jalan Allah. Jihad secara harfiah berarti
berjuang dan berusaha. Dan hal ini bisa dilakukan dengan beberapa macam cara
dan bentuk. Hal ini juga bisa berarti melawan diri sendiri untuk mencegahnya
dari melakukan hal-hal yang menyebabkan dirinya melakukan perbuatan yang
dilarang.
7.Amr bil Ma’ruf (Memerintahkan
kepada kebaikan)
Membimbing dan mendorong orang lain untuk melakukan perbuatan-perbuatan
dan amal yang baik.
8.Nahi ‘anil Munkar.(Melarang apa
yang salah)
Mencegah dan menghentikan orang lain dari perbuatan-perbuatan buruk.
9.Tawalla’
Mencintai dan mentaati Allah (SWT), Rasulullah (SAWW), Para Imam Suci(AS) , serta bergaul dan
berbuat baik pada mereka yang mencintai dan mengikuti Manusia-Manusia Suci
tersebut.
10.Tabarra’(Berlepas diri)
Menjauh dan berlepas diri dari orang-orang yang memusuhi Allah SWT,
Rasulullah Saww, para Imam as. dan Sayyidah Fatimah Zahra sa.
Diterjemahkan dari buku METHOD OF SHALAT
Complid by: Sayyid Muhammad Qadi Mar’ashi
Ansariyan Publication-Qum
Labels:
FIQIH
Subscribe to:
Posts (Atom)