Thursday, November 16, 2017

Wafatnya Nabi Muhammad SAWW

Setelah kembali dari perjalanan Haji yang dikenal dengan Haji wada’ (perpisahan) dimana peristiwa Ghdir Khum terjadi,  Nabi Muhammad saww jatuh sakit. Sebuah kelompok mengambil keuntungan dari kesempatan ini dan mengklaim diri mereka sebagai Nabi. Nabi Muhammad saww memerintahkan Nabi –nabi palsu itu diperangi karena berbahaya bagi ummat, akhirnya semua dari mereka terbunuh.

Suatu hari ketika Nabi sudah sangat sakit dan tidak sehat, beliau saww dengan bantuan dan Imam Ali as mengunjungi makam sahabat-sahabatnya di pemakaman Baqi. Kemudian beliau kembali ke rumah.

Hari demi hari, penyakit Nabi saww semakin parah sampai akhirnya Nabi saww menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Imam Ali as pada hari Senin tanggal 28 Safar tahun 11 Hijrah, yang membuat seluruh dunia Islam sedih dan berduka.

Mengenai peristiwa syahadah Rasulullah saww, diriwayatkan dari Ummu Salamah,



"Demi Allah, orang yang paling dekat [kepada Nabi] pada saat kematian Nabi adalah 'Ali. Pada pagi hari ketika beliau akan meninggal, Nabi memanggil Ali yang sebelumnya dikirim keluar dalam suatu tugas. Beliau menanyakan Ali sebanyak tiga kali sebelum dia (Ali) datang. Kemudian Ali datang sebelum matahari terbit.  Jadi, karena kami berpikir bahwa Nabi membutuhkan privasi dengan Ali, kami keluar. Saya adalah yang terakhir keluar, karena itu, saya duduk lebih dekat dengan pintu (kamar Nabi) dari pada wanita lain, saya melihat bahwa Ali menundukkan kepalanya ke arah Nabi,  dan Nabi terus membisikkan sesuatu ke telinganya. Oleh karena itu, Ali adalah satu-satunya orang yang berada di dekat Nabi saat akhir hayatnya.”

Al-Hakim, dalam Mustadrak-nya meriwayatkan  bahwa:

"Nabi terus menyampaikan rahasia-rahasia kepada Ali sampai saat wafatnya, lalu beliau menghembuskan napas terakhir."

Ibn al-Wardi menunjukkan bahwa orang-orang yang memandikan jenazah Nabi adalah:

"Ali, Abbas, Fadhl Qutham, Usamah dan Shaqran. Abbas, Fadhl dan Qutham memutar tubuh, Usamah dan Shaqran menuangkan air, dan Ali meratakannya ke tubuh beliau."



Tarikh al-Khamis menambahkan hal berikut:

"Abbas, Fadhl dan Qutham memutar tubuh dari satu sisi ke sisi yang lain sedangkan Usamah dan Shaqran menuangkan air ke atas jenazah beliau, mereka semuanya ditutup matanya."

Ibn Sa'd menceritakan hal berikut dalam kitab Tabaqat-nya bahwa:

"Ali meriwayatkan bahwa Nabi telah memerintahkan yang demikian karena jika seseorang kecuali dirinya (Ali) memandikan jenazahnya, maka dia pasti akan menjadi buta."

Abdul-Barr, dalam bukunya Al-Isti'ab, mengutip 'Abdullah ibn' Abbas yang mengatakan: "Ali memiliki empat kehormatan khusus yang  luar biasa yang tidak satupun dari kita memilikinya:

• Dari semua orang Arab dan non-Arab, dia adalah orang pertama yang melaksanakan sholat bersama Nabi.

• Dalam semua pertempuran di mana dia berpartisipasi, dia satu-satunya yang memegang bendera Nabi di tangannya.

• Ketika orang-orang melarikan diri dari medan perang meninggalkan Nabi sendiri, 'Ali bin Abi Thalib berdiri tegak di sisi Nabi.
• Ali adalah satu-satunya orang yang memandikan dan menguburkan jenazah Nabi . "


Mengenai usia beliau, Abul-Fida 'menulis:

"Meski ada perbedaan pendapat tentang usia Nabi, namun menurut riwayat yang terkenal, beliau  nampaknya telah hidup selama 63 tahun."

Nabi Muhammad adalah saksi, pembawa berita gembira,  pemberi peringatan kepada umat manusia, juga penyeru kepada Allah serta cahaya yang menerangi kita semua

“Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,’ dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi. (Al-Qur’an, surat Al-Ahzab ayat 45-46)

Beliau memang meninggalkan dunia ini, tapi risalahnya tetap abadi selamanya. Allah menekankan di dalam Al-Qur’an, surat Al-Hashr ayat 7

dan Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. 



Monday, November 6, 2017

Seperti Apa Imam Mahdi saat Muncul?



Pernahkah kita berpikir, jika usia Imam Mahdi begitu panjang, lalu bagaimanakah penampilan beliau nantinya saat muncul?


Imam al-Mahdi lahir pada tahun 255 H, dan saat ini berarti beliau sudah berusia sekitar 1183 tahun. Lalu, dengan usia setua itu, apakah beliau kemudian memiliki tubuh dan penampilan seperti kakek-kakek renta? Atau, apakah sebaliknya?? Bagaimanakah cara kita mengetahuinya??  


Jika kita ingin tahu bagaimana penampilan Imam Mahdi afts nanti saat beliau muncul, maka kita bisa mengetahuinya melalui apa yang dikatakan para Imam mengenai bagaimana penampilan Imam Mahdi saat nantinya muncul.

Lalu apa saja kata para Imam suci mengenai penampilan Imam Mahdi afts yang saat ini sedang kita tunggu? 

1 - Imam al-Bāqir mengatakan

هُوَ شَابٌ بَعْدَ كِبَرِ السِّنِ 

"Meski usianya sudah sangat tua, dia masih terlihat muda."

2 - Imam al-Sādiq berkata,

لَوْ خَرَجَ الْقَائِمُ لَقَدْ أَنْكَرَهُ النَّاسُ يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ شَابّا

"Ketika Al-Qaim muncul, beberapa orang menolaknya karena dia akan mendatangi mereka sebagai pemuda."

3 - Dalam narasi lain dari seorang Imam suci, beliau berkata, 

فِي صَاحِبِ الزَّمَانِ ع شَبَهاً مِنْ يُونُسَ رُجُوعُهُ مِنْ غَيْبَتِهِ بِشَرْخِ الشَّبَابِ 

"Sesungguhnya Pemilik Zaman ini (Imam al-Mahdi) memiliki kesamaan dengan nabi Yunus. Dia akan tampak seperti seorang pria pada masa terbaik di masa mudanya."

4 - Imam Ali ar-Ridha juga mengatakan,

إِنَّ الْقَائِمَ هُوَ الَّذِي إِذَا خَرَجَ كَانَ فِي سِنِ الشُّيُوخِ وَ مَنْظَرِ الشُّبَّانِ قَوِيّاً فِي بَدَنِه

"Sesungguhnya, Al-Qaim akan berpenampilan seperti seorang pemuda, ia memiliki usia yang panjang seperti orang tua, tapi terlihat seperti pemuda dan kuat secara fisik."

5 - Imam al-Sādiq menyatakan,

إِنَّ وَلِيَّ اللَّهِ... يَظْهَرُ فِي صُورَةِ فَتًى مُوَفَّقٍ ابْنِ ثَلَاثِينَ

"Sesungguhnya Wali Allah, (Imam al-Mahdi afts) akan muncul, sama seperti seorang pemuda berusia tiga puluh tahun."

6 - Imam al-Hassan al-Mujtaba mengatakan,

يُطِيلُ اللَّهُ عُمُرَهُ فِي غَيْبَتِهِ ثُمَّ يُظْهِرُهُ بِقُدْرَتِهِ فِي صُورَةِ شَابٍ دُونَ أَرْبَعِينَ سَنَةً ذَلكَِ لِيُعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Allah akan memperpanjang hidupnya pada masa keghaibannya, maka Allah akan membuatnya muncul dengan kekuatanNya, seperti seorang pemuda yang berusia di bawah empat puluh tahun. Hal ini agar orang-orang menyadari bahwa Allah mampu melakukan segalanya. "

Jadi, sesuai dengan perkataan para Imam, Imam Mahdi afts meski memiliki usia yang panjang, bahkan seribu tahun lebih, namun beliau akan memiliki penampilan seperti seorang pemuda yang kuat dan gagah.

catatan kaki:

1 Kamāl al-Dīn Wa Tamām al-Ni’mah, vol. 1, p. 327, hadith 7.
2 Al-Ghaybah by Sheikh al-Tūsī, p. 420.
3 Ibid, p. 421.
4 Kamāl al-Dīn Wa Tamām al-Ni’mah, vol. 2, p. 376, hadith 7.
5 Al-Ghaybah by Sheikh al-Tūsī, p. 420.
6 Kifāyah al-Athar, p. 226.


Saturday, November 4, 2017

Imam Mahdi Berasal dari Ahlul Bait Nabi




أبوسَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ 

«سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ص يَقُولُ الْمَهْدِيُّ مِنِّا أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الْأَنْفِ يَمْلَأُ الْأَرْضَ عَدْلًا وَ قِسْطاً كَمَا مُلِئَتْ جَوْراً وَ ظُلْماً»




Abu Sa'īd al-Khudrī mengatakan,

"Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, 'al-Mahdi berasal dari kami (Ahlul Bayt as). Ia memiliki dahi yang lebar dan hidung mancung. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi dengan ketidakadilan dan tirani. "

Sharh al-Akhbbār, oleh bin Hayyūn, vol. 3, hal. 379.

Monday, October 30, 2017

Induk Bebek dan Rubah



Suatu hari seekor induk bebek bersama dengan anak-anaknya berjalan menuju ke sebuah danau. Si Induk ingin mengajar anak-anaknya berenang. Anak-anak bebek itu sangat senang dan mengikuti induknya dengan riang.





Tiba-tiba induk bebek melihat seekor rubah di kejauhan. Dia ketakutan dan berteriak, "Anak-anak, cepat ke danau, ada rubah!"

Anak-anak bebek yang gugup berkeciap-keciap sambil berlari menuju danau. Tidak ingin si rubah menangkap anak-anaknya, si induk bebek segera berpikir apa yang harus dilakukan. Kemudian ia  mulai berputar dan, lalu berjalan mondar-mandir seperti kesakitan sambil menyeret satu sayap ke tanah.

Sang rubah yang melihatnya,  menjadi gembira. 

“Aha!” kata si rubah pada dirinya sendiri, "Sepertinya dia terluka dan tidak bisa terbang! Aku bisa dengan mudah menangkap dan memakannya!"

Segera sang rubah mengejarnya. 

Induk Bebek berlari, ia berlari menjauh dari danau sehingga rubah juga menjauh dari danau. Sang Rubah yang mengikutinya kini sudah jauh dari danau. Sekarang dia tidak akan bisa menyakiti anak-anaknya.

Saat berlari, si induk Bebek melihat ke arah anak-anaknya dan melihat bahwa mereka telah sampai di danau dan mulai berenang. Dia lega, jadi dia berhenti dan menarik napas dalam-dalam.


Rubah itu mengira induk bebek sudah lelah,  dan dia mulai mendekat pelan-pelan, tapi bebek betina itu tiba-tiba dengan cepat mengepakkan sayapnya dan terbang ke udara. Dia terbang sampai ke danau dan mendarat di tengah-tengah danau tempat anak- anaknya berada. Mereka berkeciap gembira menghampiri induknya. 



Anak-anak, tahukan kalian bahwa Allah mengilhamkan kepada beberapa ibu unggas untuk menyenderkan salah satu sayap mereka ke tanah ketika ada musuh yang mendekat? Dengan cara ini, mereka seperti menipu musuh  yang mengira mereka ini sedang terluka. Saat musuh mengikuti, hal ini akan memberi waktu bagi anak-anaknya untuk melarikan diri.

Kalau ibu bebek saja sangat sayang kepada anak-anaknya, sehingga rela mengorbankan diri demi menyelamatkan mereka, bagaimana dengan ibu kita? Ibu kita juga sangat sayang pada kita, ibu rela tidak tidur agar bisa menemani kita saat kita sakit, ibu rela seharian sibuk di dapur agar kita sekeluarga bisa makan enak, menyiapkan kebutuhan kita sekolah, bahkan terkadang ada juga ibu yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Ibu kita adalah malaikat penjaga yang dianugerahkan Allah untuk kita, karenanya kita harus bersikap sangat baik dan sayang kepadanya.

Wednesday, October 25, 2017

Siapa Lebih dekat kepada Allah? Si Kaya atau Si Miskin?



Saat itu Nabi Muhammad saww sedang duduk di masjid Madinah dan memberi beberapa nasihat kepada para sahabatnya sambil menunggu datangnya waktu shalat.

Sesaat kemudian seseorang yang kaya raya dengan mengenakan pakaian mahal datang dan duduk di hadapan Nabi untuk turut serta mendengarkan khotbah beliau.

Tak berapa lama, datanglah seorang lagi yang juga ingin mendengarkan khotbah Nabi, kemudian duduk disamping orang kaya yang tadi.

Orang yang datang kedua tadi tidak kaya, bahkan sebenarnya ia sangat miskin. Pakaiannya sudah usang dan penuh tambalan.

Orang kaya tadi, yang berada disebelah orang miskin itu tidak suka dengan kehadiran si miskin. Ia beringsut dan menarik pakaian mewahnya yang baru itu agar tidak terkena pakaian usang orang miskin yang baginya kotor itu.

Nabi Muhammad saww menyaksikan apa yang telah dilakukan orang kaya itu dan tidak menyukainya. 

Nabi kemudian bertanya kepada si orang kaya itu mengapa ia melakukan hal itu? Apakah karena ia takut kekayaannya akan berpindah kepada orang miskin itu, ataukah ia takut kemiskinan orang itu akan berpindah kepadanya?

Orang kaya itu, yang sebenarnya bukan orang jahat, menyadari betapa ia telah melakukan hal yang salah. Ia pun benar benar menyesal dan meminta maaf. Ia bahkan menawarkan untuk memberikan separuh dari seluruh kekayaannya kepada orang miskin yang duduk di sebelahnya itu.

Orang  miskin itu mengatakan kepada si orang kaya bahwa dia menerima permintaan maafnya dan memaafkannya, tapi tidak menginginkan setengah dari kekayaannya karena dia tidak ingin mendapatkan sesuatu yang bukan dari hasil kerja kerasnya.

Pesan Moral:
Di mata Allah berapa kaya atau miskin seseorang tidak ada bedanya. Orang yang paling dekat dengan Allah adalah orang yang menaati perintahNya dalam setiap tindakan.

Berdoa Memohon Disegerakannya Kemunculan Imam Mahdi Afts



Doa kita yang memohon disegerakannya kemunculan Imam Mahdi afts mempunyai pengaruh yang besar dan membuat kemunculan Imam akan terjadi dengan lebih cepat. Imam juga meminta kita untuk banyak berdoa memohon kpada Allah agar mempercepat kemunculan beliau. Hal ini beliau sampaikan dalam pesan beliau kepada wakilnya, Muhammad bin Usman al-Amri,


«أَكْثِرُوا الدُّعَاءَ بِتَعْجِيلِ الْفَرَجِ فَإِنَّ ذَلِكَ فَرَجُكُم‏» 


“Perbanyaklah berdoa untuk disegerakannya kemunculanku, karena hal itu membantumu keluar (dari masalahmu) 

-Kita harus banyak berdoa untuk kedatangan Imam, karena dengan berdoa kita menunjukkan bahwa  kita sangat membutuhkan beliau dan benar-benar menunggunya. Kita juga menunjukkan bahwa kita serius mempersiapkan diri akan kehadirannya dan tidak mengabaikan Imam Zaman kita.

-Tahukah kalian bahwa rahasia kemunculan Imam diletakkan dalam doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam. Jika kita tidak mengadahkan tangan, memohon kepada Allah agar Imam Mahdi afts disegerakan kemunculannya, Imam tidak akan datang. 

-Kita juga harus tahu bahwa setelah setiap sholat wajib, doa-doa yang kita panjatkan akan dikabulkan oleh Allah Swt. Maka betapa baiknya jika kita mempersembahkan doa itu kepada Imam kita dengan meminta agar Allah mengizinkan kemunculannya lebih cepat.

Tuesday, October 24, 2017

Jalan ke Rumah Imam




Hari itu hari Jumat. Aku bersama dengan ibu dan bibiku pergi ke musholla untuk ikut bergabung dalam majelis do’a al-Nudbah pagi-pagi sekali. Di musholla, kami mempunyai majelis doa yang setiap hari Jum’at  melafalkan doa al-Nudbah.

Pada hari Jumat ini, aku senang sekali bisa ikut ibu untuk turut serta membaca Doa. Kebetulan sekolahku libur. Setelah pembacaan doa selesai, ibu beramah tamah dengan anggota majelis lainnya, lalu kami beranjak pulang.

Tadi malam hujan turun cukup lebat. Jalanan dan gang-gang menjadi benar-benar basah kuyup dan ada banyak genangan yang penuh air kotor. Jalanan jadi berlumpur. Kami mencoba melangkah perlahan dan berhati-hati agar pakaian kami tidak kotor.

Dalam perjalanan pulang aku bertanya pada ibu,

"Bisakah kita melihat Imam kita suatu hari nanti?" tanyaku.

"Tentu saja. Ada banyak cara untuk membawa kita kepada Imam," jawab Ibu sambil menatapku.

"Tapi tentu saja jika kita tidak membuat pakaian kita kotor dengan berjalan di gang yang kotor seperti ini.."  sahut bibiku sambil tersenyum menunjuk pakaian kami yang kotor terkena lumpur. 

Ibuku tertawa mendengar jawaban bibi. Aku menengok ke arah ibu dan menatap heran,

"Apakah jalan dimana Imam Mahdi tinggal basah dan berlumpur?" tanyaku.

"Tidak sayang,” kata ibu memberi jawaban sambil tersenyum mencium keningku,“ jalan ke rumah Imam sangat sehat dan bersih."

"Karenanya kita tidak boleh membuatnya kotor dan najis," lanjutnya.

"Apakah kita bisa membuatnya menjadi kotor?" tanyaku.

"Ya, dengan tindakan buruk kita," jawab ibu.

Kami bertiga masih berjalan menyusuri jalanan basah sambil sesekali melompat menghindari genangan air. Tapi aku masih penasaran dengan jawaban ibu.

“Bagaimana bisa, ibu?” tanyaku masih menunggu jawabannya.

 Ibu kemudian mengajakku sedikit menepi supaya kami tidak mengganggu orang yang berlalu lalang.

"Semua tindakan buruk kita seperti saat kita berbohong atau mengatakan sesuatu yang buruk adalah seperti menggali genangan air kotor di jalan menuju rumah Imam," kata Ibu melanjutkan.

"Kalau ada banyak genangan air kotor saat kita pergi ke rumah Imam, kita akan benar-benar basah dan kotor dan akan membuat rumahnya kotor juga." Bibi meneruskan jawaban ibu sambil sedikit mencubit pipiku dari belakang.

“Auch! Bibi!” jeritku kecil sambil mengusap pipi. 
 Tapi aku memikirkan apa yang dikatakan bibi. Bibi benar, aku tidak suka kalau jalanan ke rumah Imam jadi kotor gara-gara aku.

"Zainab tahu kan, tidak ada yang menyukai tamu kotor yang penuh dengan kotoran dan najis," Ibu berkata sambil tersenyum menatapku, membuatku jadi ikut tersenyum juga.

Kami sudah hampir sampai, bibi dan ibu masih mengobrol, tapi aku masih memikirkan percakapan kami. Aku menyadari bahwa jika aku ingin mendekati Imam, maka aku harus tetap bersih. Karenanya, aku tidak boleh melakukan perbuatan buruk. Karena setiap kali melakukan perbuatan buruk, maka itu seperti menambahkan kotoran di hatiku. Itu seperti menggali genangan air kotor di jalan menuju rumah Imam. Jika aku melewatinya, maka aku akan menjadi kotor juga.

Kemudian aku berkata pada diriku sendiri,

Wahai Imam al-Mahdi!

Bantulah aku untuk selalu menjadi anak yang bersih dan rapi. Aku tahu bahwa Engkau tidak ingin aku menjadi kotor. Bantu aku untuk tidak berbohong, tidak melakukan perbuatan buruk, dan tidak merusak jalan menuju rumahmu. Aku ingin benar-benar bersih ketika aku datang ke rumahmu atau ketika aku mengingatmu di dalam hatiku.



Thursday, October 19, 2017

Siapakah Imam Mahdi??



Imam Mahdi lahir pada tanggal lima belas Sya'bān pada tahun dua ratus lima puluh lima setelah hijrah (255 H).

Beliau lahir di kota Samarra, Irak, pada saat fajar di hari Jum’at. 

Beliau adalah Imam ke-12 dan Imam terakhir kita. Nama Imam sama dengan nama Nabi kita. Beliau  diutus oleh Allah untuk membuat semua orang di dunia mengikuti Islam. 

Beliau akan membersihkan seluruh dunia dari segala sesuatu yang tidak diridhoi Allah. Mahdi berarti "yang  diberi petunjuk". Beliau memiliki umur yang sangat panjang dan akan muncul saat Allah memutuskan.

Imam tidak terlihat tapi dia bersama kita, melihat kita, membantu kita, dan memperhatikan semua yang kita lakukan. Kita harus bersiap untuk menyambut kemunculannya.. Tapi, apakah kita seperti apa yang beliau harapkan?

Apakah beliau senang dengan perbuatan-perbuatan kita?


ISILAH TITIK DIBAWAH INI

1- Imam Mahdi lahir pada tanggal............ ..

2 - Umat Islam harus bersiap untuk.................. Imam Mahdi

3 - Kita harus berusaha membuat Imam Mahdi menjadi ............... dengan kita.

4 - Imam Mahdi akan ............ jika Allah memutuskan.

5 -Allah............... Imam Mahdi umur panjang.

6 - Mahdi berarti bahwa beliau adalah .............. oleh Allah.

7 - Imam Mahdi............. perbuatan yang kita lakukan



Thursday, October 12, 2017

Imam Hasan as dan Ilmu Pengetahuan




Imam Hasan as, seperti semua imam lainnya diberi pengetahuan Ilahi langsung dari Allah swt dan beliau telah menunjukkannya sejak kecil.

Pada suatu hati Imam Hasan as ditanya "Apa 10 hal kuat yang lebih kuat dari satu sama lain?" Imam Hasan (a.s.) menjawab:

Di antara hal-hal yang kuat adalah Batu;
Yang lebih kuat lagi adalah Besi yang digunakan untuk memecahkan Batu;
Yang lebih kuat lagi adalah Api yang melelehkan Besi;
Yang lebih kuat lagi adalah Air yang memadamkan api;
Yang lebih kuat lagi adalah Awan yang membawa Air bersama mereka;
Yang lebih kuat lagi adalah angin yang membuat  Awan melayang;
Yang lebih kuat lagi adalah Malaikat yang menggerakkan angin;
Yang lebih kuat lagi adalah Malaikat yang akan mencabut nyawa Malaikat yang menggerakkan angin;
Yang lebih kuat lagi adalah  yang Kematian yang akan mematikan  Malaikat Maut; dan
Yang lebih kuat lagi adalah perintah Allah (swt) yang memerintahkan Kematian.


Pada suati hari, penguasa Roma bertanya kepada Imam Hasan as, "Mahluk apa yang lahir tanpa ibu dan ayah atau laki-laki dan perempuan?" dan Imam Hasan (a.s.) menjawab:

Ada 7mahluk:

1.Nabi  Hazrat Adam as,
2.Sayyidah  Hawwa as,
3.Anak domba yang dikirim menggantikan Nabi Ismaeel as,
4.Unta Nabi Saleh as,
5.Ular Nabi Musa as,
6. Iblis dan 7.gagak yang mengajarkan cara mengubur kepada Qabeel bin Hazrat Adam (as).

Pertama Kali Seorang Anak Diberi Nama Hasan



Imam Hasan (a.s.) lahir pada tanggal 15 Ramadhan tahun ke-3 Hijrah. Namanya diberikan oleh Allah (swt) melalui wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad diberitahu bahwa bahwa karena kedudukan  Imam Ali as disisi Nabi Muhammad (saw) adalah seperti kedudukan Nabi Harun as kepada Nabi Musa as, maka nama anak Imam Ali as harus sama seperti nama anak Nabi Harun as yaitu Shabbar yang dalam bahasa Arab artinya Hasan. Ini adalah pertama kalinya seorang anak bernama Hasan.

Monday, October 2, 2017

Ayat-Ayat Pendek

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

surat Huud ayat 114


artinya; Sesungguhnya kebaikan itu menggantikan keburukan.


إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوٌّ مُّبِينٌ


Surat Yusuf ayat ke-5

Sesungguhnya setan itu bagi manusia musuh yang nyata


 وَالصُّلْحُ خَيْرٌ


Surat An-Nisa' ayat 128

dan perdamaian itu lebih baik


وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ


Surat Al-Hujurat ayat ke-11

Janganlah kalian memanggil dengan ejekan


 لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ


Surat Ash-Shaff ayat 02

Mengapa Kalian mengatakan yang tidak kalian lakukan


وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ


Surat At-Taubah 108

Dan Allah Menyukai orang-orang yang bersih

Monday, March 13, 2017

Fatimah binti Muhammad (sa): Belajar dan Menerapkan Pengetahuan


Suatu hari Nabi Muhammad (saw) datang ke rumah putri tercintanya Sayyidah Fatimah az Zahra sa. Disana putri Nabi itu bertanya sejumlah pertanyaan tentang hak-hak dalam agama. Di antara mereka adalah pertanyaan mengenai kewajiban seorang istri terhadap suaminya.


Salah satu dari banyak hal yang Nabi Muhammad (saw) katakan saat itu adalah, "Wahai Fatimah, Seorang wanita yang menuntut hal-hal yang berada di luar kemampuan suaminya, dihapus dari rahmat Ilahi."


Setelah pernikahannya dengan Imam Ali (as), Sayyidah Fatimah binti Muhammad (sa) tidak pernah meminta atau menuntut apa pun dari suaminya apapun yang sekiranya suaminya (as) tidak mampu dan malu untuk mengatakannya.


Suatu hari Imam Ali (as) bersikeras agar istrinya, Sayyidah  Fatimah binti Muhammad (sa), meminta  sesuatu darinya. Setelah didesak, Sayyidah Fathimah (sa) setuju dan meminta buah delima.


Imam Ali (as) kemudian dengan gembira membeli buah delima  dari pasar. Saat dalam perjalanan pulang  menuju rumah, matanya melihat seorang miskin yang sakit. Imam (as) bertanya kepada orang miskin itu apa yang dia inginkan, dan orang miskin menyatakan keinginannya untuk makan buah delima. Tanpa ragu-ragu, Imam Ali (as) menyerahkan delima yang semula beliau beli untuk istrinya tersebut.


Kemudian, ketika Imam Ali (as) berjalan menuju rumahnya, ia (as) merasa bersalah dan berpikir bahwa ini adalah pertama kalinya Fatimah binti Muhammad (sa) telah meminta delima dan ia tidak mampu untuk memenuhi keinginannya.


Meskipun Imam Ali (as) yakin bahwa Fatimah binti Muhammad (sa) akan senang mengetahui bahwa delima itu diberikan kepada orang lain dengan tujuan baik, namun, ia (as) masih merasa bersalah.


Saat itulah, Jibril datang kepada Nabi Muhammad (saw) dengan nampan berisi buah delima dari surga dan memberitahu kepadanya tentang apa yang telah terjadi. Nabi Muhammad (saw) kemudian memberikan baki/nampan itu untuk Salman Al-Farsi (ra) dan memintanya untuk mengirimkannya kepada Fatimah binti Muhammad (sa) sebelum Imam Ali (as) sampai di rumah.


Fatimah binti Muhammad (sa) bertanya, "Wahai Salman! Dari mana baki ini berasal?"


Salman Al-Farsi (ra) berkata, "Wahai Putri Nabi! Anda menyatakan keinginan Anda untuk delima kepada Imam Ali (as), ia (as) membelinya dan memberikannya kepada seorang pengemis miskin. Untuk tindakan tulus tersebut, Allah (SWT) telah mengirimkan baki ini dari surga sehingga keinginan Anda terpenuhi dan Imam Ali (as) juga diselamatkan dari rasa malu. "


Imam Ali (as) tiba di rumah dengan kepala tertunduk karena rasa bersalah. Begitu beliau masuk, beliau (as) bertanya, "Wahai Fathimah! Apakah aku mencium bau dari buah delima?"

Fatimah binti Muhammad (sa) berkata, "Wahai Ali! Delima ini adalah apa yang telah engkau  kirim. Engkau menyerahkan satu untuk pengemis dan sebagai balasannya Allah (SWT) telah mengirimkan delima-delima itu dari surga."


Kejadian di atas menunjukkan, bagaimana Sayyidah Fatimah binti Muhammad (sa) belajar dari ayahnya, Nabi Muhammad (saw) dan menerapkan pengetahuan yang sama dalam hidupnya.

Tuesday, April 21, 2015

Ketika Anak Belajar Sejarah.((Resensi buku Imam Musa Kazhim)

Judul buku : Imam Musa Kazhim 

Penulis       : Anna Rahman, Bintu Ali Bafagih 
Penerbit      : Citra 
Cetakan      : 1, Maret 2015, Jumadil awwal 1436 H
Tebal buku : 100 halaman


Ketika Anak Belajar Sejarah



Ikhtisar Isi Buku
   Allah turun ke bumi menunggangi kuda putih?? Bagaimana itu mungkin? Mengapa bisa timbul pemikiran-pemikiran aneh yang meracuni pikiran ummat Islam kala itu? Mengapa Imam Ja’far as Shadiq meninggalkan surat wasiat yang didalamnya beliau mencantumkan 4 nama selain nama Imam Musa Kazhim, dan diantaranya ada juga nama  khalifah dan walikota Madinah saat itu?

Ternyata sudah banyak sekali aliran-aliran seperti Mu’tazilah, Murji’ah, Qadariyah dan lain-lain yang menjadikan ummat bingung kemana mereka harus pergi sepeninggal Imam Ja’far as Shodiq as. Ternyata ada peristiwa FAKH! Pembantaian keluarga Rasulullah terkeji kedua setelah Karbala!

Banyak sekali fakta sejarah yang disodorkan buku ini. Bukan hanya sekedar pergantian Dinasti Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah yang terjadi saat Imam Musa Kazhim berusia 4 tahun, namun juga bagaimana dakwah santun Imam yang senantiasa hidup dalam tekanan dari masa satu khalifah ke masa khalifah lainnya, hingga bagaimana beliau dipaksa menghabiskan hidupnya dari  penjara ke penjara namun tetap melakukan dakwah diam-diam sampai kesyahidan menjemput.

Begitu menerima buku ini, yang pertama melintas dalam pikiran saya adalah, Akhirnyaaaaaa! Senang? Iya! Mengapa? Yang pertama adalah, agar anak saya lebih mengenal siapa Imamnya, baru satu buku ini yang menceritakan kisah Imam dalam bentuk buku anak berbahasa Indonesia.  Juga karena saya perlu memotivasi anak saya dengan kisah-kisah teladan yang akan membentuk karakternya, sekaligus agar anak gemar membaca hingga terasah ketajaman otaknya. Dan, yang terakhir, ehm! Agak malu ngomongnya, tapi jujur saja, agar anak saya bisa makin berkurang nonton tivinya tanpa harus saya larang, melainkan dari inisiatifnya sendiri.

Alhamdulillah dia suka, mungkin karena bagusnya, dalam buku ini, peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa Imam Musa Kazhim  itu, dirangkum dalam bahasa yang mudah dimengerti untuk anak. Tulisan pun dicetak dengan font Arial yang notabene nyaman dimata. Didalamnya juga dilengkapi banyak ilustrasi yang tentu saja meningkatkan minat baca anak.

Kisah-kisah dalam buku ini bisa  dikunyah dengan lembut dan rileks. Nutrisi ilmu didalamya, insyaAllah akan menjadi bekal membangun karakter anak, bahkan saya sendiri. Tidak sabar rasanya menanti buku-buku kisah 14 manusia suci lainnya. (Zaenabya)







Thursday, April 9, 2015

Sayyidah Fathimah dalam Al-Qur'an

Sayyidah Fathimah dalam Al-Qur’an.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca ……”

Maghali al Syafi’i  mengatakan bahwa kaca yang dimaksud adalah Sayyidah Fatimah (sa), dan pelita yang dimaksud adalah al-Hasan (as) dan al-Husain (as)


وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga dekat akan haknya....” (17 : 26)

Perawi menyebutkan, bahwa ketika ayat ini diturunkan, Rasulullah saw bertanya kepada malaikat Jibril, Siapakah keluarga dekat yang dimaksud dan apakah hak mereka? Kemudian Jibril menjawab,
“Berikanlah Fadak kepada Fatimah karena itu adalah haknya, dan segala sesuatu yang karena Allah dan Rasulnya telah menjadi haknya Fatimah selain Fadak, percayakanlah juga kepadanya. Oleh karena itu, Rasulullah saw memanggil Fatimah (sa) dan menuliskan sebuak akta hadiah, dan memberikan Fadak kepadanya.
~Tafseer Durre Mansoor (Volume 4 page 177)


إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا -

“Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Al-Ahzab: 33)

Al-Tirmizi ibn Mansur, Al Hakim ibn Mardawaih dan Al-Baihaqi dalam Sunannya, semua meriwayatkan bahwa Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad saww mengatakan,
Saat ayat Al Qur’an “ Seungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa….”  Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ada di rumahku. Rasulullah (saw) menutupi mereka dengan sebuah selimut dan kemudian berkata, Inilah Ahlul-Baytku. Allah menjauhkan segala keburukan dari mereka, serta mensucikan mereka sesuci-sucinya.
~Sahih al Tirmizi, Volume 5 page 328 Hadith no. 3875


Maka barangsiapa membantahmu tentang kisah Isa setelah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya)

 فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ

“Maka, marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah dilimpahkan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S. Ali Imran :61)

Ketika ayat ini turun, Rasulullah saw memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, kemudian bersabda ,
“Ya Allah, mereka ini adalah ahli (keluargaku),”
~Sahih Muslim Volume 15 page 176

http://www.al-islam.org/articles/hazrat-fatima-az-zahra-sa

Wednesday, April 8, 2015

1+1+1= 4 ?????

Di suatu kelas di Taman Kanak-Kanak,seorang murid ditanya oleh gurunya,

"Kazim, kalau Ibu  beri Kazim sebuah apel, lalu Ibu  tambah sebuah lagi, kemudian Ibu tambahkan sebuah lagi,berapa buah apel yang Kazim punya?" tanya sang guru.

Dengan antusias kazim mulai menghitung menggunakan jari jarinya, khas anak kecil.
Setelah merasa menemukan jawaban yang tepat,dengan mata berbinar Kazim menjawab lantang,

"Empat Bu guru..!"

Ibu Guru mengernyitkan dahi. Tak puas dengan jawaban Kazim, iapun mengulang kembali pertanyaannya,

 "Kazim, dengarkan pertanyaan Bu guru baik baik ya? Kalau Ibu  beri Kazim sebuah apel, lalu Ibu  tambah sebuah lagi kemudian Ibu tambahkan sebuah lagi, berapa apel yang Kazim punya?"

Melihat gurunya  kecewa atas jawaban pertama yang ia berikan tadi, Kazim berusaha dengan lebih keras menjumlahkan. Jari-jarinya ditekuk kemudian dihitung sambil mulutnya komat-kamit menghitung. Kemudian sekali lagi ia menjawab,

 "Empat bu guru," kali ini bocah 5 tahun itu menjawab dengan suara agak pelan.

Gurunya lagi lagi nampak kecewa, menjadikan Kazim mengkerut tak percaya diri. Tapi sebagai seorang pendidik yang baik, sang guru mengerti bahwa tak baik menampakkan kekecewaan pada murid sekecil Kazim. Lalu sang guru mulai berpikir, mungkin karena Kazim kurang suka apel maka ia menjawab dengan salah. Karena Kazim sangat suka strawberry, mungkin ia lebih mengerti kalau soalnya diganti dengan strawberry.

 Lalu gurupun bertanya kembali tapi kali ini dengan soal berbeda,

"Baiklah Kazim, kalau sekarang Ibu  beri Kazim sebuah strawberry, lalu sebuah lagi dan ditambah sebuah lagi..berapa strawberry milik Kazim sekarang?"

Dengan polos kazim mulai lagi mengitung dengan jari2 mungilnya, dirasa sudah menemukan jawabannya Kazim menjawab,

"Tiga bu guru!" Kali ini, takut-takut Kazim memandang wajah sang guru.

 Raut sumringah tampak diwajah gurunya. Merasa berhasil, sang gurupun memuji Kazim yang semula terlihat agak tertekan.

"Bagus Kazim! Bagus sekali, nak! Jawaban kamu benar sekali!" ucapnya gembira,
“Nah, sekarang kalau pertanyaannya diganti seperti tadi, Ibu  beri Kazim apel satu, lalu ditambah satu apel lagi dan satu lagi, apelnya Kazim ada berapa?"

Kazim dengan mata berbinar bagaikan seorang pemenang dengan mantap menjawab,

"Empat bu guru..!"

Oh!  Jawaban yang membuat raut gembira sang guru seketika berubah, dan membuat mata berbinar sikecil Kazim redup tersapu kekecewaan sang guru.

"Aduh Kazim! Kenapa berbeda jawabannya? Kan soalnya sama saja? Hanya bu guru ganti buah strawberrynya dengan apel??"

Melihat sang guru sangat kecewa, dengan menundukkan kepala Kazim berucap pelan,

"Tapi Bu guru,Kazim sudah punya sebuah apel di tas."

Thursday, April 2, 2015

Ummul Banin Ibunda Abl Fadhl Abbas

Ummul Banin memasuki rumah Imam Ali as dengan kesadaran penuh bahwa sebelum dirinya, Pemimpin wanita seluruh alam, Sayyidah Fatimah az-Zahra sa tinggal di rumah tersebut. Karenanya, begitu ia melangkahkan kaki memasuki rumah, beliau bersumpah akan melayani putra-putri az-Zahra sa, selayaknya budak pada tuannya.

Para perawi meriwayatkan, saat pertama kali dibawa ke rumah Imam Ali as, al-Hasan dan al-Husain sedang sakit. Ummul Banin bersegera merawat mereka dengan penuh ketelatenan dan kecintaan. Ketulusan beliau yang luar biasa ini begitu dihargai oleh putra-putri az-Zahra sa hingga mereka selalu memberi penghormatan khusus kepada hadhrat Ummul Banin.

Empat putra beliau , Abbas, Abdullah, Ja’far dan Usman, kesemuanya syahid bersama Imam Husain as di Karbala.

Sedari kecil Ummul Banin senantiasa mewanti-wanti al-Abbas mengenai kedudukannya dengan Imam Husain as. Beliau selalu berkata,

“Perhatikanlah sikapmu terhadap al-Husain, ingatlah, ia bukan saudaramu melainkan Imam dan Tuanmu, maka selalu tundukkan kepalamu di hadapannya, dan ikutilah ia sampai ajal menjemputmu.”

Saat mendengar kabar bahwa Syimr membuka paksa hijab Sayyidah Zainab as dalam tragedi Karbala, Ummul Banin dilanda kesedihan yang luar biasa atas apa yang menimpa putri az-Zahra yang dicintainya lebih dari nyawanya sendiri itu, dengan diliputi rasa tak percaya ia berkata,

”Dimana Abbas? Bagaimana ia membiarkan hal ini terjadi? Sungguh ia bukan putraku.”

Selang beberapa saat kemudian setelah seseorang memberitahunya bahwa peristiwa itu terjadi setelah kesyahidan al-Abbas barulah Ummul Banin percaya.

Kemuliaan, ketulusan dan kecintaan beliau kepada Ahlul Bayt as, menjadikan setiap Imam suci pada zamannya memuji dan mengagungkan ibunda al-Abbas ini.

Monday, March 30, 2015

Bunga untuk Imam Hasan al-Mujtaba

Suatu hari, seorang budak wanita mempersembahkan setangkai bunga yang indah dan harum untuk tuannya, Imam Hasan al-Mujtaba  (as). Imam menerima bunga itu dengan senang hati, bahkan sangat senang sehingga beliau pada saat itu juga membebaskan si budak wanita. Anas bin Malik yang kala itu berada di sana menjadi heran,

    “Junjunganku, engkau membebaskannya hanya karena hal yang sepele itu? Seseungguhnya aku tidak melihat hubungan antara bunga itu dan kebebasannya.”

Imam menjawab,

“Allah berfirman dalam al-Qur’an, Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (4:86). Ia telah mengungkapkan penghormatannya dan hal itu harus dibalas dengan cara yang jauh lebih baik, maka aku membebaskannya. (Ahsanul-Muqaal).

Wednesday, March 4, 2015

Kilau Kemuliaan Sang Putri

Yatsrib telah menjadi kota Nabi. Disana muslimin hidup dengan damai dibawah kepemimpinan manusia terarif sepanjang masa. Dibawah kepemimpinan Rasulullah saww, kaum Yahudi dan Nasrani pun boleh tinggal dan hidup berdampingan dengan kaum muslimin Yastrib, yang kini berubah nama menjadi Madinah.

Kala itu, seorang kaya beragama Yahudi merencanakan pernikahan anak perempuannya. Rumah dan halaman megah yang ia miliki, dihias meriah. Cahaya  penerangan berkerlap-kerlip di setiap sudut rumah dan halaman, menambah maraknya suasana. Persiapan pernikahan terencana dengan matang. Tinggal mengirim atau mendatangi tetamu yang hendak diundang.

Si Yahudi juga hendak mengundang putri Nabi Muhammad saw. Ia lalu mendatangi Nabi dan menyampaikan undangannya agar Sayyidah Fatimah mau menghadiri upacara pernikahan anaknya.  Nabi mengatakan kepada Yahudi tersebut untuk meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib, karena ia adalah suami Sayyidah Fatimah.

Yahudi pun menghadap Imam Ali as, namun Imam Ali pun tak begitu saja mengiyakan undangan itu. Beliau  meminta Yahudi tersebut menyampaikan langsung undangannya kepada Sayyidah Fatimah sa. Maka  si Yahudi tersebut meminta izin menemui Sayyidah Fatimah untuk  menyampaikan undangannya.

Orang Yahudi itu kemudian menyampaikan undangannya dan Sayyidah Fatimah menjawab bahwa beliau hanya akan pergi apabila Imam Ali mengizinkannya. Yahudi itupun menjelaskan bahwa sebelumnya ia telah terlebih dahulu meminta izin kepada Nabi dan Imam Ali sebelum ia menemui Sayyidah Fatimah atas saran dari mereka berdua.

Mendengar hal ini, Sayyidah Fatimah kemudian mendatangi Rasulullah saww,

“Wahai ayah, seorang Yahudi memintaku untuk menghadiri pernikahan anaknya.
Bagaimanakah saranmu mengenai hal ini?” tanya Sayyidah Fatimah.

Dengan tersenyum Rasulullah saw menjawab,

“Putriku, engkau bebas untuk menerima ataupun menolaknya,”

“Kehadiranku disana nanti hanya akan dianggap sebagai penghinaan bagi para wanitanya, karena mereka pasti akan memakai pakaian-pakaian mewah lengkap dengan semua perhiasannya. Sedangkan aku hanya memiliki pakaian usang dan penuh tambalan dimana-mana,” ungkap Sayyidah Fatimah.

Beliau bukanlah malu akan pakaian yang dimilikinya, namun keadaan penuh kemewahan yang selalu mewarnai upacara pernikahan kaum kaya, bagi Sayyidah Fatimah bukanlah hal yang menarik untuk didatangi.

Nabi pun menjawab,

“Hadirilah dengan pakaian yang engkau punya sesuai kehendak Allah,”

Maka Sayyidah Fatimah kemudian memutuskan untuk menerimanya, karena hak tetangga adalah untuk memenuhi undangan yang telah mereka berikan.

Tibalah hari pernikahan. Sayyidah Fatimah telah bersiap dengan pakaian yang beliau miliki. Meski pakaian beliau bukan pakaian baru, namun beliau tetaplah sangat cantik.
Ketika bersiap meninggalkan kamar, tiba-tiba turun bidadari bidadari dari surga.
Kamar itu menjadi sangat terang benderang. Bidadari itu membawa sebuah pakaian dari surga, lengkap dengan perhiasannya. Pakaian itu khusus diturunkan Allah untuk Sayyidah Fatimah. Pakaian surga itu begitu indah dan berkilauan. Apalagi setelah dikenakan oleh sang putri, Sayyidah Fatimah. Keindahannya bahkan tak terlukiskan. Bidadari-bidadari yang mengelilingi Sayyidah Fatimah membantu beliau mematut diri.
Sayyidah Fatimah kemudian menuju ke tempat diadakannya upacara pernikahan.
Bidadari-bidadari utusan Allah mengiringi beliau dalam perjalanan. Demi menjaga kehormatannya, sebagian berjalan disebelah kanan Sayyidah Fatimah, sebagian di sebelah kiri, sebagian di depan dan sebagian di belakang sehingga sepanjang perjalanan orang-orang tak bisa melihat langsung kepada Sayyidah Fatimah. Mereka hanya melihat beberapa wanita bercahaya dan cahaya paling terang berada di  ditengah-tengahnya. Iring-iringan itu sedang menuju ke upacara pernikahan putri Yahudi kaya disana.

Tibalah iring-iringan bidadari ini di tempat upacara. Memasuki ruangan yang dikhususkan untuk wanita, keluarga pengantin dan para tamu sontak menjadi gaduh. Semua terpana dan terpesona kepada iring-iringan cahaya putri Nabi tersebut. Sewaktu para bidadari kemudian menepi untuk memberi jalan kepada Sayyidah Fatimah, seluruh ruangan tiba-tiba menjadi sangat terang. Aroma harum memancar dari Sayyidah Fatimah bahkan hingga ke pojok-pojok ruang. Belum lagi kecantikan tak terperi yang dimiliki putri Rasul dalam balutan pakaian surganya sungguh mempesonakan semua yang melihatnya.

Seluruh hadirin kehilangan kata-kata. Mereka serasa tak percaya bahwa yang mereka lihat ini adalah Fatimah binti Muhammad. Putri dari seseorang yang sangat bersahaja dan mengaku dirinya Nabi utusan Allah. Muhammad yang hidup dalam kesederhanaan yang sangat. Beberapa wanita yang hadir bahkan jatuh pingsan tak kuasa menahan keterpanaan akan kecantikan Sayyidah Fatimah dalam pakaian surganya, termasuk sang pengantin.

Selang beberapa saat, semua wanita yang tadinya pingsan itu kemudian sadar kembali, kecuali sang pengantin. Semua berusaha menyadarkan sang pengantin, namun gagal. Bahkan pengantin itu kemudian meninggal dunia. Suasana menjadi riuh. Tangisan dari pihak keluarga mulai terdengar disana-sini. Ada yang menjerit-jerit tak kuasa menahan kesedihan. Suasana pernikahan yang semula ceria berubah menjadi suasana duka penuh tangisan karena kematian pengantin wanita. Sayyidah Fatimah juga bersedih dengan apa yang terjadi. Namun kemudian, dengan kewibawaannya, beliau meminta semua hadirin untuk kembali tenang. Beliau menjanjikan bahwa atas izin Allah SwT Sang Pemilik Kehidupan, pengantin wanita akan hidup kembali.

Sayyidah Fatimah kemudian mendirikan shalat dua rekaat. Dengan bersimpuh, beliau berdoa ke hadirat Allah SwT,

“Wahai Tuhanku, aku adalah putri Nabimu, dan Engkau telah menamaiku Batul as-Shiddiqa, maka demi kedudukan Nabimu, penuhilah janji yang telah aku berikan kepada orang-orang ini. Wahai sebenar-benar Tuhanku, aku adalah putri Nabimu, maka jagalah kehormatanku., Orang orang ini akan menyalahkanku atas kematian pengantin wanita karena ketidak tahuan mereka, dan upacara pernikahan ini akan berubah menjadi upacara kematian ”

Doa Sayyidah Fatimah langsung terijabah. Sang pengantin wanita tersadar kembali. Sayyidah Fatimah saat itu masih dalam posisinya berdoa. Begitu membuka mata, pengantin wanita itu tiba-tiba mengucapkan sholawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya, seolah sudah ada yang mengajarinya untuk hal itu. Kemudian ia berdiri menghadap kearah Sayyidah Fatimah dan mengucapkan,

“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau adalah putri dari Nabi kami tercinta. Aku memohon kepadamu, sucikanlah aku dan ajarkan agama kepadaku,” mohon pengantin wanita itu kepada Sayyidah Fatimah. Ia kini memeluk Islam dengan sepenuh hati.

Para tetamu yang hadir disitu, terpana melihat apa yang terjadi. Di depan mata mereka sendiri, mereka menyaksikan mukjizat Sayyidah  Fatimah sa. Mereka semua kemudian juga turut memeluk Islam mengikuti sang pengantin wanita. Bahkan beberapa laki-laki yang tadi ikut masuk saat mendengar kabar kematian pengantin wanita, juga ikut memeluk Islam.  Sejarah meriwayatkan, sekitar 500 orang Yahudi, laki-laki, perempuan termasuk anak-anak, masuk Islam pada hari itu.



Thursday, February 26, 2015

Wanita Mulia Berlisan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an

Abdullah bin Mubarak meriwayatkan,  Saat itu, aku tengah berada dalam sebuah perjalanan dan melewati gurun pasir. Dari jauh aku melihat seorang wanita berjalan sendirian, dan kusadari bahwa wanita itu tertinggal dari karavannya.

Akupun kemudian mendekatinya dan bertanya,

“Siapakah anda? Dan darimana anda berasal?”

Wanita itu kemudian menjawab dengan sebuah ayat al-Qur’an,

 “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. (Qur’an, 6:54)”


Kala itu aku berpikir bahwa wanita tersebut ingin aku mengucapkan salam terlebih dahulu kepadanya, kemudian baru ia akan menjelaskan siapa dirinya. Akupun melakukan seperti apa yang ia inginkan. Kemudian aku  menanyakan penyebab keberadaannya di tengah-tengah gurun pasir ini. Wanita itu menjawab,
  

“Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya! (Qur’an, 39:37)” menunjukkan bahwa wanita ini sebenarnya tidaklah tersesat.

Mendengar jawaban itu, aku kembali bertanya,

“Anda dari golongan manusia ataukah bangsa jin?”

Lagi-lagi ia menjawab dengan ayat al-Qur’an,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, (Qur’an, 7:31)”

Dari jawaban itu, aku memahami bahwa ia adalah seorang manusia, kembali kulanjutkan pertanyaanku,

“Darimanakah anda berasal?”

“Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh. (Qur’an, 41:44)”

“Dan kemana tujuan anda?”

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,(Qur’an,3:97)” jawabnya, menyiratkan bahwa tujuannya adalah ke Makkah untuk berhaji.

Wanita itu menjawab semua pertanyaan dengan ayat al-Qur’an. Aku kemudian menanyakan kepadanya mengenai  berapa lamakah ia telah  melakukan perjalanan.

Dan ia menjawab,

“Dan sesungguhnya, telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, (Qur’an, 50:38),” menyiratkan telah enam hari lamanya ia melakukan perjalanan.


Melihat keadaannya, aku kemudian menanyakan,

“Apakah anda lapar?”

“Dan tidaklah Kami jadikan mereka (para rasul-Nya), (memiliki) tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, (Qur’an, 21:8),” jawabannya mengiyakan pertanyaan itu.


Aku kemudian memberi wanita itu makanan. Wanita itu dengan tenang menyelesaikan makannya. Saat itu, aku memintanya untuk sedikit cepat supaya kami bisa mengejar karavannya. Padang pasir yang begitu luas tak urung sedikitnmenimbulkan kecemasan bila harus tertinggal jauh. Namun wanita itu menjawab,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qur’an, 2;286) ”


Setelah makan, aku  memintanya untuk duduk diatas unta, dibelakangku agar mudah segera menyusul karavan, namun lagi-lagi dengan ayat al-Qur’an wanita tersebut berkata,

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.  (Qur’an, 21:22)

Aku seperti disadarkan bahwa kami bukan suami istri jadi hal itu terlarang bagi kami berdua untuk duduk diatas unta bersamaan. Lalu akupun turun dan menolongnya menaiki untaku. Saat ia telah duduk diatas unta, iapun berkata,

“Maha Suci Dia yang telah menundukkan (binatang) ini bagi kami (untuk dimanfaatkan) (Qur’an, 43:13)”


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, kamipun berhasil menyusul karavan, aku bertanya kepadanya,

“Apakah anda mengenal salah seorang dari mereka?”

Wanita itu menjawab,

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) dimuka bumi, (Qur’an, 38:26),”

 “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, (Qur’an, 3:144),”

“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh! (Qur’an:19:12),”

“Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, (Qur’an, 27:9)”

Aku kemudian memanggil empat nama yang disebut wanita itu. Sesaat kemudian 4 orang pemuda keluar dari karavan. Melihat kami, mereka segera  berlari menuju wanita yang bersamaku. Aku menanyakan siapakah mereka ini  kepada wanita tersebut dan ia menjawab,


“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, (Qur’an, 18:46)”


Aku menyadari bahwa mereka adalah anak-anaknya. Wanita itu kemudian menengok ke arah anak-anaknya dan berkata,

“Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Qur’an, 28:26)”

Wanita itu seperti menjelaskan kepada mereka bahwa aku telah menolongnya. Ia kemudian berkata lagi kepada anak-anaknya,

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Qur’an 2:245)”

 Para pemuda putra wanita tersebut mengerti petunjuk yang diberikan ibunya dan memberiku imbalan sebagai tanda balas jasa. Penuh ingin tahu, Aku bertanya kepada mereka siapakah wanita mulia ini, dan mereka menjawab,

“Ia adalah ibu kami, FIDDHAH, pelayan Sayyidah Fathima azZahra sa. Dan ia tidak berucap sepatah katapun melainkan ayat suci al-Qur’an semenjak 20 tahun terakhir.”


*Disarikan dari tulisan Abul Qasim al-Qashiri melalui riwayat Abdullah bin Mubarak.*


Fiddhah ra. adalah seorang budak kulit hitam dari Ethiopia. Saat umur sebelas tahun ia didatangkan ke Arabia. Nabi suci Muhammad saw lalu membeli dan lantas membebaskan Fiddhah  hingga ia menjadi wanita muda yang merdeka. Namun Fiddhah tak ingin jauh dari keluarga Nabi saww. Fiddhah lalu menjadi pembantu rumah tangga di rumah Sayyidah Fatimah Zahra sa.


Sayyidah Fatimah selalu membagi pekerjaan rumah antara diri beliau dan Fiddhah. keimanan Fiddhah semakin bertambah selama tinggal bersama keluarga kenabian. Ia juga menjadi sangat mengerti al-Qur’an dengan sepenuh hati. Fiddhah pun turut serta mendapat kehormatan ikut berpuasa bersama Ahlul Bayt as, dalam puasa nadzar Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah sa atas kesembuhan dua putra suci mereka dari sakitnya. Ia ikut berpuasa dan turut serta pula memberikan jatahnya berbuka untuk orang miskin, anak yatim, dan tawanan selama 3 hari berturut-turut, dimana peristiwa itu diabadikan oleh Allah SwT dalam Kitab suci al-Qur’an, surat ad-Dahr (surat al-Insan) ayat 76.


Fiddhah bahkan sangat setia hingga ia pun turut mengikuti rombongan Imam Husain as ke Karbala, dan setia bersama Sayyidah Zainab sa melewati semua penderitaan bersama AhlulBayt Nabi dalam perjalanan karavan tawanan suci dari Karbala ke Syam.





Sunday, November 16, 2014

Jesus In Karbala

Jesus in Karbala

Once,  Jesus AS was traveling in the wild companied with Alhawarion (disciples), and they passed a vast desert. There, they saw a scary lion blocked the way.

Jesus AS came forward and said to the lion,

“ Why are you sitting on this way and not allowing us to go through it?”

 The lion spoke with clear language,

“I will not allow you to get through it until you curse Yazid, the killer of Hussain AS”.

 “ Who is Hussain?” asked Jesus AS

 “He is the grandson of the Umi{from Mecca} Prophet Mohammed SAWA, and the son of Ali The Guardian,”

“Who is his killer?”

 “ His killer is the cursed by the monsters, flies, and lions altogether, especially in the days of Ashura.” Said the lion.
Then Jesus AS raised his hands and cursed Yazid and prayed against him, and his companions said “Ameen” for his supplication.

 Therefore the lion went to the side and allowed them to gi through the vast desert which is now known as KARBALA.