Monday, March 30, 2015

Bunga untuk Imam Hasan al-Mujtaba

Suatu hari, seorang budak wanita mempersembahkan setangkai bunga yang indah dan harum untuk tuannya, Imam Hasan al-Mujtaba  (as). Imam menerima bunga itu dengan senang hati, bahkan sangat senang sehingga beliau pada saat itu juga membebaskan si budak wanita. Anas bin Malik yang kala itu berada di sana menjadi heran,

    “Junjunganku, engkau membebaskannya hanya karena hal yang sepele itu? Seseungguhnya aku tidak melihat hubungan antara bunga itu dan kebebasannya.”

Imam menjawab,

“Allah berfirman dalam al-Qur’an, Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). (4:86). Ia telah mengungkapkan penghormatannya dan hal itu harus dibalas dengan cara yang jauh lebih baik, maka aku membebaskannya. (Ahsanul-Muqaal).

Wednesday, March 4, 2015

Kilau Kemuliaan Sang Putri

Yatsrib telah menjadi kota Nabi. Disana muslimin hidup dengan damai dibawah kepemimpinan manusia terarif sepanjang masa. Dibawah kepemimpinan Rasulullah saww, kaum Yahudi dan Nasrani pun boleh tinggal dan hidup berdampingan dengan kaum muslimin Yastrib, yang kini berubah nama menjadi Madinah.

Kala itu, seorang kaya beragama Yahudi merencanakan pernikahan anak perempuannya. Rumah dan halaman megah yang ia miliki, dihias meriah. Cahaya  penerangan berkerlap-kerlip di setiap sudut rumah dan halaman, menambah maraknya suasana. Persiapan pernikahan terencana dengan matang. Tinggal mengirim atau mendatangi tetamu yang hendak diundang.

Si Yahudi juga hendak mengundang putri Nabi Muhammad saw. Ia lalu mendatangi Nabi dan menyampaikan undangannya agar Sayyidah Fatimah mau menghadiri upacara pernikahan anaknya.  Nabi mengatakan kepada Yahudi tersebut untuk meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib, karena ia adalah suami Sayyidah Fatimah.

Yahudi pun menghadap Imam Ali as, namun Imam Ali pun tak begitu saja mengiyakan undangan itu. Beliau  meminta Yahudi tersebut menyampaikan langsung undangannya kepada Sayyidah Fatimah sa. Maka  si Yahudi tersebut meminta izin menemui Sayyidah Fatimah untuk  menyampaikan undangannya.

Orang Yahudi itu kemudian menyampaikan undangannya dan Sayyidah Fatimah menjawab bahwa beliau hanya akan pergi apabila Imam Ali mengizinkannya. Yahudi itupun menjelaskan bahwa sebelumnya ia telah terlebih dahulu meminta izin kepada Nabi dan Imam Ali sebelum ia menemui Sayyidah Fatimah atas saran dari mereka berdua.

Mendengar hal ini, Sayyidah Fatimah kemudian mendatangi Rasulullah saww,

“Wahai ayah, seorang Yahudi memintaku untuk menghadiri pernikahan anaknya.
Bagaimanakah saranmu mengenai hal ini?” tanya Sayyidah Fatimah.

Dengan tersenyum Rasulullah saw menjawab,

“Putriku, engkau bebas untuk menerima ataupun menolaknya,”

“Kehadiranku disana nanti hanya akan dianggap sebagai penghinaan bagi para wanitanya, karena mereka pasti akan memakai pakaian-pakaian mewah lengkap dengan semua perhiasannya. Sedangkan aku hanya memiliki pakaian usang dan penuh tambalan dimana-mana,” ungkap Sayyidah Fatimah.

Beliau bukanlah malu akan pakaian yang dimilikinya, namun keadaan penuh kemewahan yang selalu mewarnai upacara pernikahan kaum kaya, bagi Sayyidah Fatimah bukanlah hal yang menarik untuk didatangi.

Nabi pun menjawab,

“Hadirilah dengan pakaian yang engkau punya sesuai kehendak Allah,”

Maka Sayyidah Fatimah kemudian memutuskan untuk menerimanya, karena hak tetangga adalah untuk memenuhi undangan yang telah mereka berikan.

Tibalah hari pernikahan. Sayyidah Fatimah telah bersiap dengan pakaian yang beliau miliki. Meski pakaian beliau bukan pakaian baru, namun beliau tetaplah sangat cantik.
Ketika bersiap meninggalkan kamar, tiba-tiba turun bidadari bidadari dari surga.
Kamar itu menjadi sangat terang benderang. Bidadari itu membawa sebuah pakaian dari surga, lengkap dengan perhiasannya. Pakaian itu khusus diturunkan Allah untuk Sayyidah Fatimah. Pakaian surga itu begitu indah dan berkilauan. Apalagi setelah dikenakan oleh sang putri, Sayyidah Fatimah. Keindahannya bahkan tak terlukiskan. Bidadari-bidadari yang mengelilingi Sayyidah Fatimah membantu beliau mematut diri.
Sayyidah Fatimah kemudian menuju ke tempat diadakannya upacara pernikahan.
Bidadari-bidadari utusan Allah mengiringi beliau dalam perjalanan. Demi menjaga kehormatannya, sebagian berjalan disebelah kanan Sayyidah Fatimah, sebagian di sebelah kiri, sebagian di depan dan sebagian di belakang sehingga sepanjang perjalanan orang-orang tak bisa melihat langsung kepada Sayyidah Fatimah. Mereka hanya melihat beberapa wanita bercahaya dan cahaya paling terang berada di  ditengah-tengahnya. Iring-iringan itu sedang menuju ke upacara pernikahan putri Yahudi kaya disana.

Tibalah iring-iringan bidadari ini di tempat upacara. Memasuki ruangan yang dikhususkan untuk wanita, keluarga pengantin dan para tamu sontak menjadi gaduh. Semua terpana dan terpesona kepada iring-iringan cahaya putri Nabi tersebut. Sewaktu para bidadari kemudian menepi untuk memberi jalan kepada Sayyidah Fatimah, seluruh ruangan tiba-tiba menjadi sangat terang. Aroma harum memancar dari Sayyidah Fatimah bahkan hingga ke pojok-pojok ruang. Belum lagi kecantikan tak terperi yang dimiliki putri Rasul dalam balutan pakaian surganya sungguh mempesonakan semua yang melihatnya.

Seluruh hadirin kehilangan kata-kata. Mereka serasa tak percaya bahwa yang mereka lihat ini adalah Fatimah binti Muhammad. Putri dari seseorang yang sangat bersahaja dan mengaku dirinya Nabi utusan Allah. Muhammad yang hidup dalam kesederhanaan yang sangat. Beberapa wanita yang hadir bahkan jatuh pingsan tak kuasa menahan keterpanaan akan kecantikan Sayyidah Fatimah dalam pakaian surganya, termasuk sang pengantin.

Selang beberapa saat, semua wanita yang tadinya pingsan itu kemudian sadar kembali, kecuali sang pengantin. Semua berusaha menyadarkan sang pengantin, namun gagal. Bahkan pengantin itu kemudian meninggal dunia. Suasana menjadi riuh. Tangisan dari pihak keluarga mulai terdengar disana-sini. Ada yang menjerit-jerit tak kuasa menahan kesedihan. Suasana pernikahan yang semula ceria berubah menjadi suasana duka penuh tangisan karena kematian pengantin wanita. Sayyidah Fatimah juga bersedih dengan apa yang terjadi. Namun kemudian, dengan kewibawaannya, beliau meminta semua hadirin untuk kembali tenang. Beliau menjanjikan bahwa atas izin Allah SwT Sang Pemilik Kehidupan, pengantin wanita akan hidup kembali.

Sayyidah Fatimah kemudian mendirikan shalat dua rekaat. Dengan bersimpuh, beliau berdoa ke hadirat Allah SwT,

“Wahai Tuhanku, aku adalah putri Nabimu, dan Engkau telah menamaiku Batul as-Shiddiqa, maka demi kedudukan Nabimu, penuhilah janji yang telah aku berikan kepada orang-orang ini. Wahai sebenar-benar Tuhanku, aku adalah putri Nabimu, maka jagalah kehormatanku., Orang orang ini akan menyalahkanku atas kematian pengantin wanita karena ketidak tahuan mereka, dan upacara pernikahan ini akan berubah menjadi upacara kematian ”

Doa Sayyidah Fatimah langsung terijabah. Sang pengantin wanita tersadar kembali. Sayyidah Fatimah saat itu masih dalam posisinya berdoa. Begitu membuka mata, pengantin wanita itu tiba-tiba mengucapkan sholawat atas Nabi Muhammad dan keluarganya, seolah sudah ada yang mengajarinya untuk hal itu. Kemudian ia berdiri menghadap kearah Sayyidah Fatimah dan mengucapkan,

“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau adalah putri dari Nabi kami tercinta. Aku memohon kepadamu, sucikanlah aku dan ajarkan agama kepadaku,” mohon pengantin wanita itu kepada Sayyidah Fatimah. Ia kini memeluk Islam dengan sepenuh hati.

Para tetamu yang hadir disitu, terpana melihat apa yang terjadi. Di depan mata mereka sendiri, mereka menyaksikan mukjizat Sayyidah  Fatimah sa. Mereka semua kemudian juga turut memeluk Islam mengikuti sang pengantin wanita. Bahkan beberapa laki-laki yang tadi ikut masuk saat mendengar kabar kematian pengantin wanita, juga ikut memeluk Islam.  Sejarah meriwayatkan, sekitar 500 orang Yahudi, laki-laki, perempuan termasuk anak-anak, masuk Islam pada hari itu.



Thursday, February 26, 2015

Wanita Mulia Berlisan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an

Abdullah bin Mubarak meriwayatkan,  Saat itu, aku tengah berada dalam sebuah perjalanan dan melewati gurun pasir. Dari jauh aku melihat seorang wanita berjalan sendirian, dan kusadari bahwa wanita itu tertinggal dari karavannya.

Akupun kemudian mendekatinya dan bertanya,

“Siapakah anda? Dan darimana anda berasal?”

Wanita itu kemudian menjawab dengan sebuah ayat al-Qur’an,

 “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum. (Qur’an, 6:54)”


Kala itu aku berpikir bahwa wanita tersebut ingin aku mengucapkan salam terlebih dahulu kepadanya, kemudian baru ia akan menjelaskan siapa dirinya. Akupun melakukan seperti apa yang ia inginkan. Kemudian aku  menanyakan penyebab keberadaannya di tengah-tengah gurun pasir ini. Wanita itu menjawab,
  

“Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya! (Qur’an, 39:37)” menunjukkan bahwa wanita ini sebenarnya tidaklah tersesat.

Mendengar jawaban itu, aku kembali bertanya,

“Anda dari golongan manusia ataukah bangsa jin?”

Lagi-lagi ia menjawab dengan ayat al-Qur’an,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, (Qur’an, 7:31)”

Dari jawaban itu, aku memahami bahwa ia adalah seorang manusia, kembali kulanjutkan pertanyaanku,

“Darimanakah anda berasal?”

“Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh. (Qur’an, 41:44)”

“Dan kemana tujuan anda?”

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah,(Qur’an,3:97)” jawabnya, menyiratkan bahwa tujuannya adalah ke Makkah untuk berhaji.

Wanita itu menjawab semua pertanyaan dengan ayat al-Qur’an. Aku kemudian menanyakan kepadanya mengenai  berapa lamakah ia telah  melakukan perjalanan.

Dan ia menjawab,

“Dan sesungguhnya, telah Kami ciptakan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, (Qur’an, 50:38),” menyiratkan telah enam hari lamanya ia melakukan perjalanan.


Melihat keadaannya, aku kemudian menanyakan,

“Apakah anda lapar?”

“Dan tidaklah Kami jadikan mereka (para rasul-Nya), (memiliki) tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, (Qur’an, 21:8),” jawabannya mengiyakan pertanyaan itu.


Aku kemudian memberi wanita itu makanan. Wanita itu dengan tenang menyelesaikan makannya. Saat itu, aku memintanya untuk sedikit cepat supaya kami bisa mengejar karavannya. Padang pasir yang begitu luas tak urung sedikitnmenimbulkan kecemasan bila harus tertinggal jauh. Namun wanita itu menjawab,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Qur’an, 2;286) ”


Setelah makan, aku  memintanya untuk duduk diatas unta, dibelakangku agar mudah segera menyusul karavan, namun lagi-lagi dengan ayat al-Qur’an wanita tersebut berkata,

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.  (Qur’an, 21:22)

Aku seperti disadarkan bahwa kami bukan suami istri jadi hal itu terlarang bagi kami berdua untuk duduk diatas unta bersamaan. Lalu akupun turun dan menolongnya menaiki untaku. Saat ia telah duduk diatas unta, iapun berkata,

“Maha Suci Dia yang telah menundukkan (binatang) ini bagi kami (untuk dimanfaatkan) (Qur’an, 43:13)”


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, kamipun berhasil menyusul karavan, aku bertanya kepadanya,

“Apakah anda mengenal salah seorang dari mereka?”

Wanita itu menjawab,

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) dimuka bumi, (Qur’an, 38:26),”

 “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, (Qur’an, 3:144),”

“Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh! (Qur’an:19:12),”

“Hai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, (Qur’an, 27:9)”

Aku kemudian memanggil empat nama yang disebut wanita itu. Sesaat kemudian 4 orang pemuda keluar dari karavan. Melihat kami, mereka segera  berlari menuju wanita yang bersamaku. Aku menanyakan siapakah mereka ini  kepada wanita tersebut dan ia menjawab,


“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, (Qur’an, 18:46)”


Aku menyadari bahwa mereka adalah anak-anaknya. Wanita itu kemudian menengok ke arah anak-anaknya dan berkata,

“Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Qur’an, 28:26)”

Wanita itu seperti menjelaskan kepada mereka bahwa aku telah menolongnya. Ia kemudian berkata lagi kepada anak-anaknya,

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. (Qur’an 2:245)”

 Para pemuda putra wanita tersebut mengerti petunjuk yang diberikan ibunya dan memberiku imbalan sebagai tanda balas jasa. Penuh ingin tahu, Aku bertanya kepada mereka siapakah wanita mulia ini, dan mereka menjawab,

“Ia adalah ibu kami, FIDDHAH, pelayan Sayyidah Fathima azZahra sa. Dan ia tidak berucap sepatah katapun melainkan ayat suci al-Qur’an semenjak 20 tahun terakhir.”


*Disarikan dari tulisan Abul Qasim al-Qashiri melalui riwayat Abdullah bin Mubarak.*


Fiddhah ra. adalah seorang budak kulit hitam dari Ethiopia. Saat umur sebelas tahun ia didatangkan ke Arabia. Nabi suci Muhammad saw lalu membeli dan lantas membebaskan Fiddhah  hingga ia menjadi wanita muda yang merdeka. Namun Fiddhah tak ingin jauh dari keluarga Nabi saww. Fiddhah lalu menjadi pembantu rumah tangga di rumah Sayyidah Fatimah Zahra sa.


Sayyidah Fatimah selalu membagi pekerjaan rumah antara diri beliau dan Fiddhah. keimanan Fiddhah semakin bertambah selama tinggal bersama keluarga kenabian. Ia juga menjadi sangat mengerti al-Qur’an dengan sepenuh hati. Fiddhah pun turut serta mendapat kehormatan ikut berpuasa bersama Ahlul Bayt as, dalam puasa nadzar Imam Ali as dan Sayyidah Fatimah sa atas kesembuhan dua putra suci mereka dari sakitnya. Ia ikut berpuasa dan turut serta pula memberikan jatahnya berbuka untuk orang miskin, anak yatim, dan tawanan selama 3 hari berturut-turut, dimana peristiwa itu diabadikan oleh Allah SwT dalam Kitab suci al-Qur’an, surat ad-Dahr (surat al-Insan) ayat 76.


Fiddhah bahkan sangat setia hingga ia pun turut mengikuti rombongan Imam Husain as ke Karbala, dan setia bersama Sayyidah Zainab sa melewati semua penderitaan bersama AhlulBayt Nabi dalam perjalanan karavan tawanan suci dari Karbala ke Syam.





Sunday, November 16, 2014

Jesus In Karbala

Jesus in Karbala

Once,  Jesus AS was traveling in the wild companied with Alhawarion (disciples), and they passed a vast desert. There, they saw a scary lion blocked the way.

Jesus AS came forward and said to the lion,

“ Why are you sitting on this way and not allowing us to go through it?”

 The lion spoke with clear language,

“I will not allow you to get through it until you curse Yazid, the killer of Hussain AS”.

 “ Who is Hussain?” asked Jesus AS

 “He is the grandson of the Umi{from Mecca} Prophet Mohammed SAWA, and the son of Ali The Guardian,”

“Who is his killer?”

 “ His killer is the cursed by the monsters, flies, and lions altogether, especially in the days of Ashura.” Said the lion.
Then Jesus AS raised his hands and cursed Yazid and prayed against him, and his companions said “Ameen” for his supplication.

 Therefore the lion went to the side and allowed them to gi through the vast desert which is now known as KARBALA.

Nabi Isa di Karbala

Nabi Isa di Karbala


Nabi Isa tengah melakukan perjalanan bersama para pengikutnya yang dikenal dengan sebutan Al Hawariun.

 Rombongan Nabi Isa kemudian tiba di suatu padang luas. Disana mereka  dihadang seekor singa besar dan menakutkan.

Nabi Isa maju mendekati singa tersebut dan bertanya,

“Mengapa kau duduk di jalan ini dan menghalangi kami untuk melewatinya?”

Saat itulah singa tersebut menjawab dengan bahasa yang sangat jelas,

“Aku tidak akan membiarkanmu melewatinya sampai kau mengutuk Yazid pembunuh Hussain as,”

“Siapakah Hussain?” tanya Nabi Isa.

“Ia adalah cucu Nabi yang Ummi (dari Mekkah), Nabi Muhammad SAWA, dan putra dari Ali Sang Penjaga Risalah,”

“Siapakah pembunuhnya?”  

“Pembunuhnya adalah yang terkutuk dan dikutuk oleh seluruh jin, singa dan bahkan lalat sekalipun, terutama di hari Asyuro,” jawab singa.

Kemudian Nabi Isa mengangkat tangannya, berdoa dan mengutuk Yazid. Doa Nabi Isa diamini oleh para pengikutnya.

Setelah itu sang singa menyingkir dan mempersilahkan mereka melewati padang tersebut yang kini kita mengenalnya dengan nama  KARBALA.

Wednesday, November 12, 2014

Ksatria Misterius

Saat perang Shiffin berlangsung antara kubu Imam Ali as dan Muawiyah, para musuh  berusaha menguasai air. Mereka memblokade daerah air dan melarang pasukan Imam Ali as. Darinya.

Tiba-tiba seorang ksatria muda berperawakan gagah, menggunakan kain penutup wajah memasuki medan laga dengan menunggang kuda. Baik musuh maupun pihak muslimin tidak mengetahui siapa kesatria misterius tersebut. Dengan lihainya sang ksatria misterius  memporak-porandakan pasukan musuh yang memblokade air.

Melihat itu, Muawiyah memerintahkan komandan terbaiknya bernama Abu Sya’sya untuk melawan sang ksatria. Namun panglima Muawiyah yang berasal dari Syiria tersebut berkata dengan sombong,

“ Orang-orang menyetarakan keberanianku dengan keberanian 1000 penunggang kuda, dan kau ingin aku bertarung melawan bocah ini?” ujarnya pongah.

Abu Sya’sa menolak maju lebih dulu dan memerintahkan putranya yang paling muda untuk bertarung. Tak berapa lama, putra itu kalah dan terbunuh di tangan ksatria gagah perkasa tersebut.

 Abu Sya’sa kemudian memerintahkan putranya yang lain, satu persatu putra Abu Sya’sa berjatuhan tak mampu menandingi kelihaian sang ksatria.

Melihat semua anaknya mati,  Abu Sya’sa menjadi sangat marah. Ia kemudian maju memasuki medan laga.  Diucapkannya syair-syair kesombongan menuntut pem balasan dendam atas kematian anak-anaknya.

Di luar dugaan pihak musuh, Pendekar andalan Muawiyah itu berhasil dikalahkan dengan mudah.

Muslimin di pihak Imam Ali bin Abi Thalib bergembira atas kemenangan yang berhasil diraih. Saat itulah, Imam Ali bin Abi Thalib memanggilnya, beliau sendiri yang membuka kain penutup wajah remaja tersebut, dan tahulah  semua orang  bahwa ksatria muda itu tidak lain adalah  Abl Fadhl Abbas.


Wednesday, October 22, 2014

Kebaikan Hati Imam Hasan al-Mujtaba as.

Budak hitam itu duduk di pinggir kebun kurma yang tengah ia garap. Tuannya memerintahkannya bekerja untuk mengurus kebun kurma itu dengan baik. Ingin sejenak ia beristirahat melepas penat sambil makan siang. Dibukanya bekal yang ia bawa, sebuah roti.

Saat itu, seekor anjing mendatanginya. Memandangi budak itu seolah melaporkan diri bahwa ia juga lapar.

Terbersit rasa kasihan di hati budak belia itu. Dipandangya roti yang ia bawa, kemudian bergantian ia pandang anjing yang sorot matanya memelas itu. Sedari tadi ia lapar selepas bekerja keras. Yang ia miliki hanyalah sepotong roti kering, sementara itu, di hadapannya ada seekor anjing yang tampaknya lapar seperti dirinya.

Budak itu kemudian memotong roti yang dibawanya dan memberikan kepada si anjing, sememtara ia juga memotong dengan bagian yang sama dan memakan sendiri roti tersebut. Demikian seterusnya potongan demi potongan bergantian ia berikan kepada anjing tersebut kemudian dirinya sendiri.

Perbuatan budak ini diperhatikan oleh seseorang yang saat itu sedang lewat. Orang tersebut bertanya,

“Apa yang membuatmu melakukan hal itu?”

Budak itu tak mengetahui siapa sosok tegap, berdada bidang dengan kulit putih kemerahan dihadapannya. Sosok  tampan yang memiliki mata hitam, janggut tebal bergelombang dan kulit halus itu tersenyum sambil menatapnya.

“Aku malu jika harus makan sendiri dan tidak berbagi padanya,” jawab budak remaja itu polos.

Imam Hasan al Mujtaba, sosok tampan tersebut, tersenyum mendengar jawaban pemuda kulit hitam itu. Beliau gembira melihat kebaikan hatinya. Imam memutuskan untuk membalas kebaikan sang budak hitam  dengan kebaikan pula. Beliau beranjak dari tempat tersebut sambil berpesan,

“Jangan kemana-mana sampai aku kembali” pesan Imam.

Ternyata Imam pergi menemui Tuan pemilik budak. Beliau membeli budak tersebut dari pemiliknya. Budak hitam itu kini menjadi milik Imam Hasan.

Beliaupun kembali menemui sang budak yang masih menunggu di pinggir kebun kurma. Sambil  tersenyum beliau menyampaikan bahwa budak hitam itu telah dibelinya dan saat itu juga ia dimerdekakan. Bukan main gembira hati sang budak. Ia tak pernah menyangka kebaikannya pada seekor anjing mendapat balasan sebesar itu.

Dan kegembiraan budak tersebut bertambah lagi saat Imam menyampaikan bahwa beliau juga telah membeli kebun kurma tempat budak itu bekerja dan menghadiahkan pula kebun itu untuk sang budak.

Dari seorang budak, pemuda itu kini telah menjadi seorang yang merdeka dan pemilik sebuah kebun kurma berkat kebaikan hati Imam Hasan al-Mujtaba.

Sunday, October 19, 2014

Tak Memandang Rendah Siapapun

Mereka duduk berkeliling. Setiap orang membawa makanan sedekah hasil meminta-minta hari ini. Baju lusuh dan compang-camping yang mereka kenakan tak mengurangi selera makan setelah seharian perut kosong tak terisi. Para pengemis di kota Madinah  hendak makan  bersama siang itu.

Sesaat sebelum mereka mulai makan, seorang penunggang kuda lewat. Penunggang yang ramah itu sangatlah mereka kenal. Senyum ramah yang selalu menghias wajahnya menunjukkan kebaikan  dan kerendah hatian pemiliknya. Menjadikan para pengemis itu tak merasa rendah diri menyapanya.  Mereka kemudian memberanikan diri mengundang penunggang kuda tersebut untuk makan bersama.

Imam Husain as, sang penunggang kuda itu tersenyum kemudian turun dari kudanya. Tanpa canggung beliau duduk bersama dengan mereka. Imam mempersilahkan mereka makan namun dengan santun Imam menjelaskan bahwa meskipun ingin,beliau tak bisa ikut makan bersama mereka.

Dengan kata-kata yang halus Imam menjelaskan bahwa keluarga Kenabian dilarang menerima sedekah. Dan karena beliau merupakan anggota Ahlulbayt Nabi, maka beliau tidak boleh makan makanan yang mereka makan, karena makanan itu merupakan sedekah dari orang-orang Madinah untuk mereka.

Ada raut kesedihan di wajah kelompok pengemis itu demi mengetahui Imam tak bisa makan bersama mereka. Namun sesaat kemudian raut sedih itu berubah menjadi bahagia. Imam ganti mengundang mereka ke rumah beliau untuk jamuan makan bersama.

 Tak terperi rasa hati para pengemis tersebut. Mereka bukan saja mendapat undangan jamuan makan yang pasti akan dipenuhi makanan lezat yang hampir-hampir tak pernah mereka dapatkan, namun juga mereka akan berkesempatan makan bersama seorang yang mulia yang selalu mereka hormati, Imam Husain as.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ

Thursday, August 28, 2014

"SEMOGA AYAHNYA JADI TEBUSAN BAGINYA"

Keluarga kenabian sedang menunggu kelahiran seorang bayi kala itu. Di rumah Imam Musa al-Kadhim, Najma istri Imam, tengah menghitung hari menanti kelahiran bayi yang di kandungnya.

 Bayi ini sangat istimewa, karena semenjak kelahiran putra pertamanya, 25 tahun yang lalu, baru kali inilah Najma  dianugerahi kemuliaan untuk mengandung putra dari Imam Kadhim kembali. Ya! 25 tahun sebelumnya,juga di bulan Dzul’Qoidah,  pada tahun 148 hijriah, Najma melahirkan seorang putra yang kemudian memjadi Imam penerus ayahandanya dan diberi gelar Ar-Ridho.

Akhirnya, hari itupun tiba. Pada 1 Dzul’qoidah 173 H, lahirlah seorang putri cantik dari rahim Najma. Mata indah putri cantik itu mengerjap-ngerjap sangat menggemaskan, menunjukkan bahwa bahwa pemiliknya kelak akan menjadi seseorang yang sangat cerdas.

Imam Musa al-Kadhim menamakan putrinya FATHIMAH, atas dasar kecintaan dan kedekatan khusus beliau dengan neneknya yang suci Sayyidah Fathimah Az-Zahra sa.  Kesucian, keshalihan, dan keimanan Fathimah lah yang  menjadikan beliau kemudian dijuluki Maksumah (yang suci). Hal ini dikarenakan, seperti ayahnya, beliau selalu menjauhkan diri dari dosa dan keburukan.

Bila seseorang memilih untuk menamai putrinya dengan nama Fathimah, maka mereka akan memberikan penghormatan khusus kepada putrinya demi nama yang disandangnya. Begitu pula yang dilakukan Imam Musa al-Kadhim. Beliau tak pernah mengecewakan putrinya. Sebagaimana Rasulullah saw mencintai dan menghormati putrinya, begitu pula yang dilakukan Imam Musa al-Kadim terhadap Sayyidah Fathimah Maksumah.

Sayyidah Fathimah Maksumah tak pernah melewatkan kesempatan untuk belajar dari ayah, kakak maupun ibundanya. Seluruh masa kecil dan masa mudanya dihabiskan untuk Islam.

Masa itu, setiap Jum’at, muslimin dari seluruh penjuru biasa datang ke Madinah untuk bertanya persoalan-persoalan agama mereka. Setelah mendapat jawaban dari Imam, mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Tapi suatu hari, pada hari Jum’at, orang-orang ini tidak bisa menemui Imam Kadhim karena beliau sedang pergi. Imam Ali ar-Ridha pun tak ada di tempat. Tampak raut kecewa di wajah orang-orang yang telah jauh-jauh datang tersebut.

Melihatnya, Sayyidah Fahimah Maksumah kemudian mengambil surat-surat berisi pertanyaan yang mereka bawa dan menjawabnya satu persatu. Orang-orang mukmin inipun bergembira. Merasa puas dan lega, mereka lalu meninggalkan Madinah.

 Dalam perjalanan pulang, mereka bertemu dengan Imam Musa al-Kadhim yang hendak kembali. Setelah orang-orang ini menceritakan kunjungan mereka, Imam kemudian membaca jawaban yang ditulis Sayyidah Fathimah Maksumah atas surat-surat mereka. Setelah membaca, tampak rona kebahagiaan terpancar dari wajah mulia Imam Musa al-Kadhim. Beliau memuji Sayyidah Fathimah Maksumah sa dan berkata,

“SEMOGA AYAHNYA JADI TEBUSAN BAGINYA.”


Monday, July 21, 2014

The Simplicity And Kindness Of Imam Ali Al-Ridha (A)

www.razaviblogfestival.ir

Imam Ali Al-Ridha (A) did not like to decorate his house with expensive carpets, instead he covered its floor with rough mats during the winter and grass mats during the summer.

When food was served, he would call all his servants, including the gatekeeper to sit and eat with him.

Majlisi in Biharul Anwar  writes that our 8th Imam insisted on eating his meals only after the entire members of his family, young and old, servants and grooms were present.

One day someone who was fonder of royal formalities than the fraternity of the Ahlulbayt, suggested that it would be better to make separate eating arrangements for the servants. The Imam replied,

"All are created by God, Adam is their father and Eve is their mother. Everyone will be dealt with by God according to his deeds. Why should there be any discrimination in this world."

Imam Ali Al-Ridha’s (A) life contains countless anecdotes of this sort. Once a man said to him,

"By God, there is none who is superior to you in the nobleness of your ancestry.”

The Imam said to him,

“My ancestors are honoured merely for their Godliness, piety and worship.”

Another man once declared,

” By God, you are the best in the world.”

 The Imam checked him by saying:

 “Don’t you declare an oath. Any man who is more pious than me can be better than me.”

 Imam several times declared the Hadith of the Prophet that a black slave can be better than a person from my own family if his deeds are better.

Thursday, July 17, 2014

Imam Reza's Lifestyle on Generosity, Fraternity and Equality


Imam Reza lifestyle was famous with his generousity, fraternity and equality towards the ummah. It could be seen by how the Imām spent all what he had on the poor and the miserable in Khurasān, where it caused the Prime Minister during Mamoon Rashid's reign, al-Fadl bin Sahl censured him for that by saying,

 “Surely this is (a kind of) damage!”

The Imām answered him with a strong argument, saying:

 “Rather it is a profit. Do not regard as damage that which results in reward and generosity.”

Imam Reza (as) does not give others in order to buy their affection or friendship; rather, he considers giving with generosity as a good trait whereby man gets nearer to his Creator, Allah by including His servants in the wealth with which He blessed him. This is the difference between his method of giving and the method of others.

Imam also stressed on equality and fraternity in the ummah. It was mentioned by the celebrated scholar “Kulayni” who was quoting a witness from "Balkh in his famous work “Kafi”,

"On the way to Khorasan I was among the attendants of His Holiness Imam Reza (as). at dinner. The 8th Imam, Holy Imam Reza (as) invited all his men around him and asked them to have dinner with him.

 There were a few negro servants were among those men. Declaring that they were all of the same flesh and blood the Holy Imam Reza (as) asked that the whole company should have dinner at one table.

 His Holiness Imam Reza (as) practically combated against the superiority of race and colour in connexion with the distinction of the human beings. The Holy Imam Reza (as) tried to revive the Islamic precepts of fraternity and equality in the Muslim community.


Monday, July 7, 2014

The Guest of Imam Reza a.s.

www.razaviblogfestival.ir
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma salle ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad

              

               This is the experience of my father when he was visiting Iran abaut four years ago. He went along with some fellow shia brothers and sisters from Indonesia for  ziyarat and Umrah. By a travelling agent,  they were visiting Saudi Arabia, Iraq and Iran only in two weeks. A story has been told to us about an experience  at  Imam Reza’s shrine in Mashad.

                It was the time  when my father at first came to the gate of the shrine, somehow he felt a sense of a deep longing. Then when he get in, and saw  the crowded of the people there, his heart was so touched. He whispered to his own heart,

                “They are all Imam Reza’s guest, mashaAllah.”

                My Father  told me  how the servants of Imam Reza there  act so humbly to every guest, when they want to rebuke any of the zarine who maybe did something a bit unproper in the crowded, they rebuke very politely using a feather duster. it was such a touchful experience. My father in that such of crowded felt how small he was. He realized that he and all the visitors are the guest of Imam Reza, so he didn’t dare to force his self to move on due to affraid of disturbing other guest. At the same time, he was so eagerly wants to reach the tomb of the shrine to release his belonging to Imam. In the situation, he was praying to Imam Reza in his heart,

                “Ya Imam, we are all your guest, and I don’t want to disturb your  others guest, but I want to reach your tomb.”

                After my father praying, didn’t know  where from, suddenly there was a huge man. From the figure, he was like an Arabic. That man gave his arm on my father’s shoulder like protecting him, and said a word,

                “Bareng!”

                My father was so amazed! Bareng is our traditional language! Not even our national language. It means LETS TOGETHER. Hows the guy knows our traditional language? Javanese language? His figure even does not like any Indonesian. And how he knows that my father knows Javanese? My father is an Arab’s descent. He doesn’t look like an Indonesian, moreover a Javanese.

                That huge man was like protecting my father so he could move on the crowded smoothly. Very smooth like even he didn’t  touch others guest. And right at the time my father reach the tomb, that huge man was also gone.  Until now my father still asking to his self who that man was. But whoever he was, my father believes that man came as the answer for his dua to Imam Reza a.s.

(by: Syarifah Luluk for  International Razavi Weblog Festival)

Friday, May 23, 2014

IMAM ALI BIN ABI THALIB

Kedudukan: Imam Pertama

Nama: Imam Ali


Julukan: Amirul Mukminin (Pemimpin Kaum Mukminin)
Abul Hasan
Al-Murtadha


Ayah:Abu Thalib


Ibu: Fathimah binti Asad


Tahun Kelahiran: 600 Masehi


Tempat lahir: Didalam Ka’bah Rumah Allah di Mekkah


Wafat: 661 masehi


Umur: 61 tahun


Tempat wafat: di masjid Kufah (Iraq)


Penyebab kesyahidan: ditikam pedang di kepalanya oleh Abdurahman bin Muljam saat sedang sujud dalam sholat Subuhnya.

SEBUAH PENGORBANAN

Dakwah Nabi Muhammad SAW. Yang mengajak ummat manusia untuk mengEsakan Allah SWT membuat para pemuka Qurays marah bukan main.

Ajakan Nabi yang disambut berbagai kalangan membuat mereka khawatir lama-lama semua orang akan mengikuti Muhammad. Merekapun bersekutu merencanakan untuk membunuh Nabi.

Allah swt memberi tahu Nabi tentang rencana jahat kaum kafir Qurays, Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad untuk memerintahkan kaum Muslim pindah ke Madinah, pindahnya kaum Muslimin dari Mekkah ke Madinah ini kemudian dikenal dengan nama Hijrah.

Kaum Muslimin berpindah secara bergantian ke Madinah.

Malam itu, tibalah saatnya Nabi Muhammad pergi ke Madinah, kaum kafir Qurays yang sebelumnya telah melakukan pertemuan khusus  membahas rencana jahat membunuh Nabi, mengirimkan 40 orang dari suku yang berbeda untuk melaksanakan niat itu. Para pembunuh itu  bersiaga di luar rumah dengan pedang terhunus siap melaksanakan rencana.

Saat itulah Nabi meminta Imam Ali as untuk menggantikan beliau berbaring di atas tempat tidur. agar kaum kafir mengira Nabi masih tidur di atasnya.

Tentu saja menggantikan Nabi bukan hal mudah. Karena kaum kafir yang berada di luar sedang dalam keadaan sangat marah dan siap membunuh. Mereka bisa saja beramai-ramai menghunjamkan pedang mereka ke tubuh Imam Ali yang berada di tempat tidur Nabi.

Bukannya takut, Imam yang kala itu masih sangat muda, justru tersenyum dan sangat bersemangat ingin melakukannya. Imam senang karena dengan pengorbanannya berarti nyawa Nabi saw bisa diselamatkan.

Saat itulah, dilangit, Allah menguji  malaikat Jibril dan malaikat Mikail dengan berfirman bahwa diantara dua malaikat itu, ada yang usianya akan segera habis. Allah bertanya kepada kedua malaikat tersebut siapa yang setuju untuk dicabut nyawanya terlebih dahulu. Namun masing-masing malaikat menjawab bahwa mereka ingin memiliki umur yang lebih panjang supaya bisa menyembah Allah lebih lama.

Atas jawaban itu kemudian Allah  memberitahu mereka, tentang yang terjadi di kediaman Rasulullah,

 “ Di bumi malam ini, seorang saudara rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan saudaranya. Turunlah! Dan lindungi ia!”

Kedua malaikatpun turun dan menjaga Imam Ali sepanjang malam.

Ketika fajar tiba, para pembunuh menyerbu rumah Nabi dan menyerang beliau. Namun , betapa terkejut kaum kafir itu karena serangan mereka disambut perlawanan sengit orang yang mereka sangka Nabi Muhammad tersebut. tak lama berselang, tahulah mereka, ternyata orang itu adalah Imam Ali as. Kaum kafir kembali dengan kegagalan dan penuh kemarahan.

Allah swt yang sangat ridho atas pengorbanan Imam Ali as, kemudian brfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِى نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ وَاللهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ,

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya (Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 207)



Tuesday, April 1, 2014

Adzan Sang Kulit Hitam Abisinia

Kini  ia makin dekat dengan kota itu. Udara di siang yang panas menyengat membuatnya berkali-kali menyeka peluh di dahi dan menjadikan tangannya pelindung pandangan dari silaunya matahari.

Dilemparkan pandangannya ke arah hijaunya pohon kurma yang terletak di belakang deretan rumah-rumah sederhana Madinah, kembali ditariknya napas dalam-dalam saat menatap kota Nabi Muhammad tersebut. Setiap hirupan napas, rasanya kembali ia rasakan udara segar yang mengingatkannya akan aroma keharuman junjungannya, Nabi Muhammad saww.

Walaupun Nabi Muhammad saww telah wafat beberapa bulan yang lalu, namun keharuman beliau saw  jelas tercium  dari  masjid beliau, masjid dimana ia pernah dititahkan melantunkan azan selama bertahun-tahun.

Ia masuki kota itu dalam diam, sejenak ia kibaskan debu-debu yang menempel di bajunya, pandangannya berkeliling memperhatikan hiruk pikuknya suasana. Orang-orang Madinah sibuk dengan kehidupan mereka sehari-hari hingga seolah tak menyadari kehadirannya.

Dilangkahkannya kaki menuju perempatan kota dimana beberapa rumah bani Hasyim berdiri, kemudian ia menuju sebuah gang sempit tempat dulu ia biasa menyambut Nabi saww setiap beliau hendak menuju masjid, diperhatikannya sebuah rumah yang darinya terpancar aroma kenabian, dulu Nabi selalu mengetuk pintu dan mengucapkan salam kepada penghuninya setiap sebelum ke masjid. Itu adalah rumah Fatimah sa dan Ali bin Abi Thalib as, putri dan menantu Nabi Muhammad saww.

Walau sebelumnya ia pernah memutuskan untuk tidak akan kembali ke Madinah setelah wafatnya Nabi, namun kerinduannya bertemu keluarga Nabi saww membuatnya kini berada kembali di kota itu dan berdiri di depan pintu itu. Perlahan dihampiri dan diketuknya pelan pintu sederhana dihadapannya.

“Salam sejahtera bagi kalian wahai Ahlulbayt as, wahai keluarga Nabi yang diberkati,” ucapnya.

Suaranya sangat dikenali oleh para pemilik rumah. Seketika pintu terbuka dan muncullah dua cucu kesayangan Nabi, Imam Hasan dan Imam Husain as menghambur ke arahnya. Wajah mereka begitu ceria dan antusias,


“Ini Bilal! Ini Bilal! Ia telah kembali!”

Bilal, seorang Abisinia berkulit hitam, yang dahulunya mendapat kehormatan dari Nabi saww sebagai pelantun azan di masjid Nabawi, memeluk erat kedua putra kecil Ali tersebut. dengan sayang dibelainya dua cucu kesayangan Nabi itu, pandangan mata mereka seolah mengingatkannya pada masa lalu dimana ia selalu bisa mencium aroma keharuman Nabi melalui keduanya.

Beberapa saat berlalu, Bilal seperti diingatkan tentang Nyoya pemilik rumah, putri Nabi Muhammad saww yang telah dirampas hak warisnya. Dua putra kecil Ali as menggandeng tangan Bilal dan menggandengnya masuk halaman rumah kecil mereka.

Suasana tetap sama seperti dulu di rumah Ali bin Abi Thalib. Namun kini, didalam rumah, disebuah kamar yang kecil, putri Nabi yang berduka, Fatimah sa terbaring lemah. Beliau mendengar suara yang tak asing, dikenalinya betul suara muazzin ayahnya saat pertama tadi ia menyapa beliau dengan hormat sebelum memasuki halaman.

“Salam atasmu wahai Muazzin ayahku, Nabi Allah SWT,” ucapnya.

Suara itu terdengar sangat lemah. Bilal merasa khawatir, ia kemudian bertanya apakah Fatimah yang mulia sedang sakit, namun pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.

Setelah hening sesaat, suara Sayyidah Fatimah dari dalam ruangan meminta Bilal untuk pergi ke masjid Nabi dan mengumandangkan azan sebagaimana ia biasa melantunkannya dimasa Nabi saww masih hidup.

“Wahai Bilal, sebelum aku pergi meninggalkan dunia yang fana ini, aku ingin kau melantunkan azan supaya aku bisa mengenang kembali masa-masa indah bersama Rasulullah Muhammad saww,” pinta Sayyidah Fatimah sa.

Bilal merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Ia tahu sebelum meninggalkan Madinah, bahwa warisan Nabi telah dirampas dari putri junjungannya tersebut. Dirampas oleh penguasa baru yang juga telah merampas hak Imam Ali bin Abi Thalib dari kursi kepemimpinan ummat, tapi sungguh Bilal tak menyangka masalah ini sampai-sampai membuat Sayyidah Fatimah berada dalam kondisi demikian.

Bilal mematuhi perintah Junjungannya. Segera ia menuju Masjid Nabawi, dinaikinya atap Masjid dan dipandangnya seluruh kota Madinah yang kini terlihat berbeda dari sewaktu Nabi saww masih hidup.

Bilal memulai azan, suaranya lembutnya seolah menyentuh langit ketika ia melantunkan kalimat pertama. Saat ia kumandangkan Allahu Akbar (Allah Maha Besar), orang-orang serempak menghentikan kegiatan mereka dan saling pandang.

“Apakah Bilal telah kembali,” terdengar suara-suara bergumam.

“Asyhadu anla ilaha illa Allah (Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah),” lanjut Bilal.

Mendengar kalimat berikutnya ini, orang-orang serempak berbondong-bondong menuju masjid. Bilal melanjutkan kembali azannya,

“ Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah (Aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah)”

Air mata mengalir di pipi pendududk Madinah. Namun sewaktu Bilal hendak melanjutkan kembali adzannya, ia melihat dua cucu Nabi, al-Hasan dan al-Husain as berlari ke arahnya. Imam Hasan dan Imam Husain serempak berkata,

“Wahai Bilal, jangan teruskan bacaan adzanmu, Ibu kami begitu teringat akan Nabi  dan kini beliau jatuh pingsan.”

Bilal bergegas turun dan memeluk kedua cucu kesayangan Nabi itu dengan berlinang air mata.


Wednesday, December 25, 2013

YATIM KECIL KARBALA

Diluar rumah tempat kami menginap, kulihat seorang anak laki-laki duduk di lantai yang dingin, ia berjualan berbagai macam cindera mata khas untuk para peziarah yang lewat.

          

           Yang paling menyentuhku adalah, begitu rendah hati caranya duduk dan berjualan. Tak pernah sekalipun ia mendongakkan kepala dan menawar-nawarkan dagangan seperti biasanya penjual-penjual dagangan di pinggir jalan. Anak laki-laki kecil ini hanya tersenyum kepada setiap peziarah yang lewat, sambil merapikan cindera mata yang ia jual, ikat kepala, bros-bros kecil, dan bendera. Tak seperti senyum lain, senyumnya adalah senyum kegembiraan, senyum yang menunjukkan keimanan.

         

             Kepolosan dan ke rendah hatiannya itu, menyentuh hatiku. Kesederhanaan dan ketulusannya menarikku untuk duduk dan berbincang sebentar dengannya.

            Aku berjongkok di sampingnya dan berkata.

            “Assalamualaikum saudara kecilku.”

            Anak kecil itu mendongak, melihat ke arahku sambil tersenyum, seolah memang sedari tadi, ia tengah menunggu seseorang menyapa dan mengajaknya berbicara.

            “Wa alaikum salam wahai Peziarah Al-Husain, selamat datang, selamat datang!”

            Aku bertanya,

            “Siapa namamu?”

            “Ahmad.” jawabnya.

            “Berapa tahun, umurmu?” tanyaku lagi.

            “Aku 11 tahun, kak. Semoga Allah memberkahi Kakak umur panjang sehingga bisa terus datang ke Karbala.” jawabnya lagi.

            Ucapan terakhirnya yang berupa doa ini, membuat leherku seolah tercekat. Sambil menahan air mata haru, aku bertanya kembali padanya.

            “Kenapa kau duduk sendirian di lantai yang dingin ini?”

            “Kakak tahu? Ayah dan Ibuku syahid dalam sebuah peristiwa ledakan bom sewaktu mereka hendak pulang ke rumah selepas Sholat Jum’at. Dan sekarang, tinggal aku yang bisa menafkahi 4 saudara perempuanku dan seorang saudara laki-lakiku yang cacat karena senjata kimia.”

            Jawaban Ahmad terasa bagai belati yang menusuk jantungku. Tak bisa lagi kutahan air mata yang sedari tadi menggantung di pelupuk mata. Kepalaku tertunduk, rasanya aku malu pada diriku sendiri.

            Dengan tangan kecilnya yang dingin, Ahmad mengusap air mata di pipiku.

            “Jangan menangis kak, ini adalah kehormatan untukku. Jangan berpikir kami sendirian, kami sekarang adalah yatim-yatim Aba Abdillah Al-Hussain(as), dan aku adalah Sang Abbas di rumah. Adakah yang lebih mulia dari ini?”

            Kupeluk bocah ini erat-erat. Rasanya tak ingin kulepas.

            Saat aku bangkit, Ahmad mengulurkan sehelai kain hijau yang diambilnya dari barang dagangannya. Dengan tersenyum Ia berkata,

            “Kakak, ambillah ini sebagai hadiah dariku. Letakkan di atas sajadah tempat kakak sholat, dan berjanjilah untuk mengingatku.JANGAN LUPA, NAMAKU AHMAD DARI KARBALA’.”

            Dan senyum itu terus membekas di hatiku.

         Aku melangkah pergi, kusadari, ini adalah  pelajaran besar dari Allah, untukku.

(via Journey of Karbala)

Tuesday, December 17, 2013

SYARAT-SYARAT WUDHU’



SYARAT-SYARAT WUDHU’

Berikut syarat-syarat sahnya wudhu’


1.      Air yang digunakan untuk berwudhu’ harus bersih. ( wudhu dengan air yang najis tidak sah.)

2.      Air yang digunakan untuk berwudhu’ harus suci ( wudhu’ dengan air yang terkena najis tidaklah sah.)


3.       Air yang digunakan haruslah halal. ( wudhu’ dengan menggunakan air curian atau tanpa izin pemiliknya tidakla sah.)

4.       Tempat/ bejana air, haruslah halal digunakan. ( wudhu’ dengan air yang diletakkan di tempat/bejana curian atau tanpa izin dari pemiliknya, tidak sah.)


5.      Tempat/ bejana air, tidak boleh terbuat dari emas atau perak.

6.      Bagian-bagian badan yang akan dibasuh ataupun diusap haruslah bersih. (tidak ada najis di atasnya)


7.      Adanya waktu yang cukup untuk melaksanakan wudhu dan sholat.

8.      Wudhu’ harus dilaksanakan dengan niat, mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh ridhoNya.


9.      Wudhu harus dilaksanakan dengan cara berurutan (Tartib)

10.  Bagian-bagian Wudhu’, harus dilaksanakan satu-persatu bergantian tanpa putus diantaranya (Muwallat)


11.  Orang yang berwudhu’ harus melaksanakan wudhu’nya sendiri. Membasuh wajah dan tangan, serta mengusap kepala dan kaki. Tanpa bantuan orang lain, kecuali kondisi darurat.

12.  Tidak ada bahaya dalam menggunakan air.


13.  Bagian-bagian yang akan dikenai air dalam wudhu, tidak mengandung apa-apa yang menghalangi sampainya air ke sana.